Jatah Bensin Premium Menipis karena Harga Tak Naik Jadi Rp 6.000

Jatah Bensin Premium Menipis karena Harga Tak Naik Jadi Rp 6.000

Luhur Hertanto - detikFinance
Rabu, 05 Sep 2012 12:59 WIB
Jatah Bensin Premium Menipis karena Harga Tak Naik Jadi Rp 6.000
Foto: Dok. detikFinance
Jakarta -

Kuota atau jatah BBM subsidi di Jakarta diperkirakan bakal habis 15 September 2012 ini karena tingkat konsumsi yang tinggi. Ini terjadi karena harga bensin premium tidak naik menjadi Rp 6.000 per liter.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, dalam tahun ini pemerintah mengalokasikan jatah BBM subsidi sebanyak 40 juta kiloliter (KL) dengan asumsi harga BBM subsidi naik dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 per liter.

"APBN-P didesain dengan kenaikan harga BBM Rp 6 ribu. Pada waktu itu kemudian diputuskan tidak Rp 6 ribu. Asumsi kuota juga di mana harga itu Rp 6 ribu yakni 40 juta kiloliter. Kenyataanya, memang tidak akan cukup 40 juta KL itu," tutur Hatta di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Rabu (5/9/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikatakan Hatta, Menteri ESDM Jero Wacik akan bertemu dengan Komisi VII DPR untuk membicarakan soal penambahan jatah BBM subsidi khususnya bensin premium yang kuotanya menipis.

Seperti diketahui, dari data Pertamina, realisasi konsumsi BBM subsidi sampai 30 Agustus 2012 adalah:

  • Premium: Dari kuota 16,185 juta kiloliter (KL), realisasi konsumsinya 18,441 juta KL atau kelebihan 14%
  • Solar: Dari kuota 9,138 juta KL, realisasi konsumsinya 10,065 juta KL atau kelebihan 10%
  • Kerosene (minyak tanah): Dari kuota 923.052 KL, realisasi lebih rendah yaitu 793.154 KL

Menurut Hatta, tingkat konsumsi BBM subsidi sangat tinggi karena jumlah kendaraan yang terus meningkat. "Coba lihat, jumlah motor ada 8 sampai 9 juta. Kendaraan yang diproduksi hampir 1 juta. Kalimantan saja dalam waktu 1-2 tahun ini meningkat 2 kali lipat jumlah kendaraan bermotornya," tutur Hatta.

Tanpa disadari, lanjut Hatta, konsumsi BBM subsidi terus meningkat. Apalagi harga bensin non subsidi seperti pertamax tinggi karena mengikuti harga pasar. Kondisi ini membuat masyarakat pindah menggunakan BBM subsidi.

(dnl/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads