Kuota atau jatah BBM subsidi di Jakarta diperkirakan bakal habis 15 September 2012 ini karena tingkat konsumsi yang tinggi. Ini terjadi karena harga bensin premium tidak naik menjadi Rp 6.000 per liter.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, dalam tahun ini pemerintah mengalokasikan jatah BBM subsidi sebanyak 40 juta kiloliter (KL) dengan asumsi harga BBM subsidi naik dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 per liter.
"APBN-P didesain dengan kenaikan harga BBM Rp 6 ribu. Pada waktu itu kemudian diputuskan tidak Rp 6 ribu. Asumsi kuota juga di mana harga itu Rp 6 ribu yakni 40 juta kiloliter. Kenyataanya, memang tidak akan cukup 40 juta KL itu," tutur Hatta di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Rabu (5/9/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui, dari data Pertamina, realisasi konsumsi BBM subsidi sampai 30 Agustus 2012 adalah:
- Premium: Dari kuota 16,185 juta kiloliter (KL), realisasi konsumsinya 18,441 juta KL atau kelebihan 14%
- Solar: Dari kuota 9,138 juta KL, realisasi konsumsinya 10,065 juta KL atau kelebihan 10%
- Kerosene (minyak tanah): Dari kuota 923.052 KL, realisasi lebih rendah yaitu 793.154 KL
Menurut Hatta, tingkat konsumsi BBM subsidi sangat tinggi karena jumlah kendaraan yang terus meningkat. "Coba lihat, jumlah motor ada 8 sampai 9 juta. Kendaraan yang diproduksi hampir 1 juta. Kalimantan saja dalam waktu 1-2 tahun ini meningkat 2 kali lipat jumlah kendaraan bermotornya," tutur Hatta.
Tanpa disadari, lanjut Hatta, konsumsi BBM subsidi terus meningkat. Apalagi harga bensin non subsidi seperti pertamax tinggi karena mengikuti harga pasar. Kondisi ini membuat masyarakat pindah menggunakan BBM subsidi.











































