Hal tersebut seperti disampaikan Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini di International Oil and Gas Business Day di Stavanger Norwegia yang diadakan beberapa hari lalu.
"Itu namanya sebuah kelicikan dimana negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Jepang dan lainnya menikmati anugrah energi nuklir, sementara negara-negara berkembang lainnya dilarang dengan alasan keamanan," kata Rudi ketika ditemui di Kementerian ESDM, Rabu (5/9/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bayangkan betapa besar manfaatnya energi Nuklir, seupil nuklir atau tidak lebih besar dari sebesar permen dapat mensuplai kebutuhan listrik satu pulau," ungkap Rudi.
Memang diakui Rudi, masalah nuklir tidak lah mudah, faktor geo politik berkaca pada kasus Iran membuat energi yang ramah lingkungan dan non emisi ini jadi tidak bisa mengembangkan energi nuklir.
"Tapi kepada ilmuan-ilmuan yang hadir di Stavenger saya bilang, itu urusan politik, kita ilmuan menyadari bahwa pada akhirnya Dunia ini akan mengandalkan Nuklir," ucap Rudi.
Dikatakan Rudi, boleh saja semua ilmuan bilang gas lebih bersih tetapi energi terbarukan seperti air, matahari, bio feul masih banyak kendalanya.
"Gas itu energi fosil sampai kapan bertahannya, pasti akan habis, air terbatas, matahari butuh lahan sangat luas, bio fuel akan bertanding dengan makanan, satu-satunya energi yang baik di masa depan," katanya.
Menurut Rudi, berilah kesempatan negara-negara lain menikmati manfaat besar dari nuklir, tidak perlu berskala besar, cukup mini nuklir.
"Yang mini nuklir saja, manfaatnya besar juga, tapi resikonya makin kecil, tidak seperti di Jepang yang kapasitasnya ratusan mega watt, ketika terjadi bencana efeknya kemana-mana," tandasnya.
(rrd/dru)











































