Anggota Komisi VII DPR Satya W. Yudha mengatakan, hampir tiap tahun pemakaian BBM subsidi selalu melampaui kuota yang ditetapkan. Karena tidak tepat sasaran. Pihak industri dan orang-orang kaya pun ikut menikmati BBM subsidi.
"DPR dan pemerintah telah menyepakati kuota BBM subsidi tahun ini 40 juta kiloliter dengan asumsi ada pembatasan konsumsi dan konversi (dari BBM ke BBG). Tapi hal itu agak tersendat. Pembatasan (konsumsi BBM subsidi) dengan stiker juga tidak efektif," ujar Satya kepada detikFinance, Sabtu (8/9/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini menjadi keprihatinan kami. Kalau sekarang kuota akan habis dan pemerintah minta penambahan, itu bukan sesuatu yang susah. Masalahnya sekarang, kita tidak mau BBM subsidi digunakan pihak yang tidak berhak. Berapa pun kuota yang ditambahkan pasti akan habis," tutur Satya.
Jadi, tegas Satya, dia meminta pemerintah dengan tegas bisa membasmi kebocoran-kebocoran konsumsi BBM subsidi ini. Sehingga dana yang dikeluarkan untuk subsidi tidak sia-sia dan tepat sasaran.
Satya dengan tegas membantah lonjakan konsumsi BBM subsidi sehingga bakal melebihi 40 juta kiloliter ini akibat batalnya rencana kenaikan harga BBM subsidi dar Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 per liter, seperti yang pernah diucapkan Menko Perekonomian Hatta Rajasa.
"Waktu menetapkan 40 juta kiloliter itu, kami tidak pernah mengasumsikan adanya kenaikan harga. Tapi harus ada manajeman volume. Rencana kenaikan harga BBM subsidi itu untuk menekan anggaran subsidi energi," tegas Satya.
Anggota DPR dari Fraksi Golkar ini juga membantah, kenaikan konsumsi BBM subsidi karena jumlah kendaraan yang bertambah. "Kami mengindikasikan banyak BBM subsidi yang lari ke industri," cetusnya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan, pemerintah akan mengajukan tambahan kuota BBM subsidi sebesar 4 juta kiloliter kepada DPR. Hal ini harus disetujui DPR, karena jika tidak masyarakat kelas bawah pengguna sepeda motor tak bisa menikmati BBM subsidi sampai akhir tahun.
Menanggapi ini, Satya mengatakan, DPR meminta pemerintah bisa lebih tegas untuk mencegah kebocoran konsumsi BBM subsidi. "Berapapun kuota yang ditambahkan, mau 4 juta kiloliter, 6 juta kiloliter, atau 7 juta kilokiter pasti akan habis. Karena kebocoran tersebut," ucap Satya.
Seperti diketahui, dari data Pertamina, realisasi konsumsi BBM subsidi sampai 30 Agustus 2012 adalah:
- Premium: Dari kuota 16,185 juta kiloliter (KL), realisasi konsumsinya 18,441 juta KL atau kelebihan 14%
- Solar: Dari kuota 9,138 juta KL, realisasi konsumsinya 10,065 juta KL atau kelebihan 10%
- Kerosene (minyak tanah): Dari kuota 923.052 KL, realisasi lebih rendah yaitu 793.154 KL











































