Pertamina Ganti Anjungan Sumur Minyak di Madura yang Ditabrak Kapal

Pertamina Ganti Anjungan Sumur Minyak di Madura yang Ditabrak Kapal

- detikFinance
Senin, 10 Sep 2012 14:51 WIB
Pertamina Ganti Anjungan Sumur Minyak di Madura yang Ditabrak Kapal
Foto: Ilustrasi-Reuters
Jakarta - Anak usaha Pertamina yakni Pertamina Hulu Energi (PHE) kembali mengoperasikan anjungan lepas pantai di blok migas Madura miliknya. Anjungan ini sempat rusak ditabrak kapal barang di 2010 lalu.

Blok migas West Madura Offshore (WMO) ini letaknya di 70 mil lepas pantai Kabupaten Sampang, Madura. Pemasangan anjungan baru ini rencananya dilaksanakan akhir September 2012.

"Mulai produksi migas pada awal November 2012," kata Deputi Pengendalian Operasi Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS) Gde Pradnyana dalam siaran pers, Senin (10/9/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat tertabrak kapal barang pada 11 Agustus 2010, anjungan PHE 40 (dulu bernama ke-40) mampu memproduksi minyak 1.600 barel per hari (bph) dan gas sekitar 15 juta kaki kubik per hari. Lapangan ini mulai produksi di 2005. Produksi puncaknya sebesar 9.500 bph dan 38 juta kaki kubik per hari pada 2007.

Akibat tertabrak kapal barang, posisi anjungan PHE-40 mengalami kemiringan hingga 17,5 derajat. Meski dalam posisi aman tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, anjungan itu perlu perbaikan agar bisa dioperasikan untuk memproduksi minyak dan gas lagi.

Saat ini, produksi minyak blok WMO berkisar 10.500 bph. Selain mengoperasikan anjungan PHE-40, PHE WMO bersiap mengoperasikan tiga anjungan baru. Kini, anjungan masih dalam proses penyelesaian pembangunan. Sesuai kontrak pembangunan tiga anjungan baru tuntas akhir September.

Ketiga anjungan baru yang diberi nama PHE-38B, PHE-39 dan PHE-54 itu sangat penting untuk mendongkrak produksi minyak dan gas di Blok WMO. Tahun 2012, PHE WMO merencanakan mengebor 21 sumur yang terdiri dari sembilan sumur eksplorasi, 12 sumur pengembangan, dan 15 sumur kerja ulang (work over). "Akhir tahun, produksi PHE WMO ditargetkan terdongkrak pada kisaran 21.000 bph," kata Direktur Utama Salis Aprilian yang ikut hadir dalam pelepasan Anjungan di Tanjung Priok, Jakarta hari ini.

Blok WMO pernah memproduksi 26 ribu bph di 2010. Tetapi percepatan penurunan produksi blok ini sangat cepat. Oleh karena itu harus dibarengi dengan kecepatan penambahan fasilitas pengeboran dan penyediaan fasilitas baru. Kerja keras menambah sumur-sumur baru itu belum bisa langsung meningkatkan kapasitas produksi Blok WMO secara signifikan. Pasalnya, pada saat blok WMO diserahkan pemerintah pada PHE sebagai anak perusahaan Pertamina, Blok WMO sedang mengalami penurunan signifikan produksi pada sumur-sumur lamanya.

Saat diserahkan ke Pertamina pada 7 Mei 2011, produksi Blok WMO sekitar 13.000 bph, tinggal 50% dibanding produksi tertinggi sebelumnya yang mencapai 26.000 bph. Penurunan produksi itu tidak bisa dihindari karena tiadanya investasi baru sejak Agustus 2010 menyusul ketidakjelasan perpanjangan kontrak pengengolaan Blok WMO.

PHE WMO memiliki target bisa memproduksi minyak 40.000 bph dan 210 juta kaki kubik gas per hari di 2016 atau setara 75.000 barel minyak ekuivalen barel per hari (boepd). Untuk mencapai target tersebut, Pertamina akan melakukan pemboran lebih dari 25 sumur eksplorasi dan 75 sumur pengembangan, kerja ulang lebih dari 10 sumur, perawatan pada 37 sumur, serta pemasangan lebih dari 10 anjungan baru sampai 2016.


(dnl/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads