"Permintaan energi fosil terus menerus naik yaitu yaitu sebanyak 80% padahal produksi minyak di Indonesia terus menurun," ungkap Direktur Bio Energi Kementerian ESDM Maritje Hutapea saat Grounbreaking Pembangkit Tenaga Listrik Fuel Cell di Ancol Jakarta, Selasa (11/09/12).
Pembangkit listrik tenaga fuel cell merupakan sebuah proyek kerjasama bilateral antara Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal energi baru, terbarukan dan konservasi energi dengan
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di tahun 2015 sendiri kita targetkan pendistribusian tenaga fuel cell ini sebanyak 2400 mW yang akan didistribusikan di Pulau Jawa, Madura dan Bali," katanya.
Hidrogen adalah energi bersih sehingga pemanfaatan energi hidrogen khususnya melalui teknologi fuel cell, selain meningkatkan ketahanan dan kemandirian energi juha diharapkan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca. Hal ini dapat membantu pemerintah dalam mencapai penurunan target emisi gas rumah kaca nasional yang telah ditargetkan yaitu sebesar 26% pada tahun 2020.
Dalam proyek kerjasama ini pemerintah Korea telah menunjuk POSCO Power sebagai perusahaan kontraktor yang membangun pembangkit listrik tenaga fuel cell tersebut. Sedangkan pemerintah Indonesia telah menunjuk PT Jakarta Propertindo yang merupakan prusahaan BUMD Provinsi DKI Jakarta sebagai pengelola. Ancol dipilih menjadi lokasi pertama agar kawasan eco park yang nanti dibuat akan memberikan kesan kepada masyarakat dan memperlihatkan teknologi fuel cell tersebut.
"Indonesia masih memiliki banyak pembangkit listrik tenaga diesel khususnya sehingga pembangkit listrik tenaga fuel cell ini juga sangat berpotensi untuk dikembangkan menggantikan PLTD tersebut," tutupnya.
Menurut pihak KOICA investasi pembangunan fuel cell ini adalah dana hibah dari pemerintah Korea untuk pembangunan full cell di Ancol sebesar US$ 3 miliar.
(wij/hen)











































