"Bagaimana kita bisa bersaing dengan negara lain jika apa-apa dinaikan, industri hanya menggunakan 33-35% listrik sepenuhnya rumah tangga yang menggunakan," kata Ketua Apindo Sofjan Wanandi saat di temui di Kantor Angkasa Pura I Kemayoran Jakarta, Selasa (11/09/12).
Menurut Sofjan kalangan industri hanya menggunakan listrik sebesar 33-35% dan selebihnya adalah Rumah Tangga. Sofjan menyesali sikap pemerintah yang terus menerus menjadikan industri sebagai penanggung beban negara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apindo sebagai otoritas penampung aspirasi pengusaha dan kalangan industri melakukan berbagai macam cara agar kenaikan ini bisa diminimalisasi oleh pemerintah. Pihak Apindo sendiri nyatanya akan bertemu dengan PLN dan Parlemen alias wakil rakyat untuk mengadukan permasalahan ini.
"Sekarang kita rapat dengan asosiasi yang ada, kita juga akan berbicara dengan parlemen. 15% terlalu tinggi. 35% gas naik tahun depan. Kita harus melihat kompetisi kita pada barang-barang impor" katanya.
Sofjan tetap tidak setuju dengan cara pemerintah dan memberikan alternatif yang harus dilakukan pemerintah agar tidak memberatkan kalangan industri di Indonesia.
"40 juta rumah tangga yang menggunakan listrik harus naik lah sedikit bisa dinaikan Rp. 5000. Jadi jangan industri yang subsidi dari rumah tangga. Padahal prioritas utama Rumah Tangga itu adalah pulsa HP, listrik di prioritaskan ke 4 setelah makanan, dan rokok, jadi ga masalah dengan kenaikan Rp.5000, setelah itu pemerintah jangan ragu naikan harga minyak Rp. 500 saja, itu sudah membantu kami," tutupnya.
(wij/dru)











































