Survei seismik North West Tunu di lapangan migas Tunu, dilakukan di Desa Muara Pantuan Kecamatan Anggana serta Desa Tani Baru Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara seluas 600 kilometer persegi, berdasarkan surat dukungan yang dikeluarkan Pemprov Kaltim melalui SK Gubernur Kaltim No 54/K.268/2008 tentang Pembentukan Tim Pendukung Kegiatan Seismik Usaha Minyak dan Gas Bumi di Wilayah Perairan (Offshore) Provinsi Kaltim.
"Survei seismik untuk mendapatkan gambaran potensi cadangan gas dan minyak baru. Survei topografi akan kita mulai pertengah September dan pengeboran lubang dangkal sedalam 20 meter sekitar Oktober 2012 mendatang," kata Lead Geophysicist Total E&P Indonesie Leonard Lisapaly dalam keterangan pers di Private Dining Room Hotel Aston Samarinda, Jalan Pangeran Diponegoro, Selasa (11/9/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seismik untuk mencari sumur baru dan mempertahankan produksi migas yang terus menurun. Saya menggarisbawahi, untuk minimal mempertahankan produksi," ujar Leonard.
Dalam kesempatan yang sama, Head External Relation Total E&P Indonesie Visnu C Bhawono merinci, Total memproduksi gas 486 ribu barel setara minyak per hari. Kapasitas produksi yang demikian dinilai berat untuk dipertahankan.
"Gas 486 ribu barel setara minyak per hari itu minimal kita pertahankan. Setiap tahunnya, rata-rata Total memiliki 100 sumur baru. Itu untuk mempertankan produksi, bukan untuk meningkatkan," jelas Visnu.
Diterangkan Visnu, di 2013, keberadaan Total E&P Indonesie genap berusia 45 tahun. Kontrak eksplorasi Migas Total di Indonesia, akan berakhir 2017 mendatang. Terkait Blok Mahakam, Visnu hanya mengatakan pihaknya tetap berkeinginan untuk mengelola blok Mahakam.
"Total setiap tahunnya menghabiskan anggaran sekitar Rp 20 triliun untuk operasional. Setidaknya, untuk Blok Mahakam, siapapun nanti yang mengelolanya, memiliki anggaran sekitar Rp 20 triliun itu setiap tahunnya," tutup Visnu.
(dnl/dnl)











































