Wamen ESDM : Pemerintah Ingin Harga BBM Naik, Bukan Karena Titipan Asing

Wamen ESDM : Pemerintah Ingin Harga BBM Naik, Bukan Karena Titipan Asing

- detikFinance
Jumat, 14 Sep 2012 08:00 WIB
Wamen ESDM : Pemerintah Ingin Harga BBM Naik, Bukan Karena Titipan Asing
Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Pemerintah membantah keinginannya untuk menaikkan harga BBM subsidi disusupi kepentingan asing. Karena kenaikan ini dinilai akan membuat SPBU asing senang.

"Keinginan pemerintah menaikkan harga BBM subsidi bukan karena titipan asing, IMF, atau Bank Dunia, atau karena akan membuat perusahaan SPBU asing makin mudah bersaing dengan Pertamina," kata Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini di Jakarta, Jumat (14/9/2012).

Kata Rudi, jika harga BBM subsidi dinaikkan, maka akan memberikan banyak manfaat dalam jangka panjang. Mulai dari berkurangnya beban subsidi minyak, mengurangi penyelundupan BBM, dan memberikan kesempatan energi lain seperti gas untuk berkembang.

"Kalau harga BBM naik dari Rp 4.500 per liter ke Rp 6.000 per liter, maka negara bisa hemat uang Rp 56 triliun dalam setahun," ujarnya.

Uang Rp 56 triliun tersebut, ucap Rudi, akan dikembalikan kembali ke rakyat dalam bentuk pembangunan infrastruktur jalan, bangun sekolah, biayai kesehatan, dan banyak hal lagi.

"Selain hemat puluhan triliun, naiknya harga BBM subsidi akan memperkecil angka penyelundupan atau penyalahgunaan BBM subsidi," katanya.

Menurut Rudi, BBM subsidi saat ini 77% tidak dinikmati oleh orang yang berhak. "Bayangkan 77% BBM subsidi itu tidak dinikmati oleh orang yang berhak terutama seperti rakyat miskin. 77% itu dinikmati oleh orang kaya dan mampu, diselundupkan ke luar negeri karena harga diluar negeri lebih mahal, ke industri, pertambangan dan perkebunan karena harganya lebih murah dibandingkan BBM non subsidi," ungkapnya lagi.

Manfaat lain jika BBM subsidi naik, kata Rudi, bisa memberi ruang energi lain berkembang seperti gas yakni Bahan Bakar Gas (BBG). Pasalnya jika BBM-nya murah orang disuruh beralih ke gas yang harganya jauh lebih murah, bersih dan pasokannya banyak susahnya setengah mati.

"BBM-nya murah ngapain orang ke gas,padahal minyak kita sampai impor dari luar negeri, harganya mahal dan makin hari makin mahal. Gas pasokan yang kita punya tumpah ruah, sampai 54% harus diekspor ke luar negeri, padahal kalau digunakan untuk BBG, besar sekali manfaatnya, udara lebih bersih, sehat, negara tidak pusing mikirin subsidinya," jelas Rudi.

Masalah nanti naiknya BBM subsidi membuat SPBU asing senang dan Pertamina harus bersaing keras bahkan terancam tidak laku pertamaxnya, kata Rudi, itu urusan bisnis to bisnis.

"Urusan itu urusan bisnisnya Pertamina, kalau kalah bahkan membuat mati pertamina ya tidak apa-apa, buat lagi Pertamina lagi, ingat Pertamina punya perlakuan khusus di negeri ini, dan lagi urusan pemerintah dengan rakyatnya bukan dengan perusahaan asing, jadi BBM naik jangan dibiang itu titipan IMF atau Bank dunia atau perusahaan asing, tidak, ini untuk dan demi rakyat," cetusnya.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads