Pertamina: Kami Kuasai 47% Ladang Migas RI, Tapi Isinya Sumur Tua Semua

Pertamina: Kami Kuasai 47% Ladang Migas RI, Tapi Isinya Sumur Tua Semua

- detikFinance
Jumat, 14 Sep 2012 12:17 WIB
Pertamina: Kami Kuasai 47% Ladang Migas RI, Tapi Isinya Sumur Tua Semua
Jakarta - PT Pertamina (Persero) mengaku menguasai 47% ladang minyak dan gas bumi di seluruh Indonesia, namun produksi migasnya masih urutan 3 kalah dibanding Total E&P Indonesie dan Chevron. Apa alasan Pertamina?

Vice President Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan, sumur-sumur di lapangan migas yang dikuasai Pertamina sudah berumur tua sehingga produksinya tidak maksimal.

"Kita memang menguasai 47% sumur-sumur migas di Indonesia. Tetapi rata-rata banyak yang berumur tua sehingga memberikan kesulitan tersendiri untuk menggenjot produksinya, ya karena sudah tua," ujar Ali di Jakarta, Jumat (14/9/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenapa Pertamina mendapat sumur tua? Menurut Ali, ini berawal dari sejarah kelam, yakni krisis Pertamina di 1977 yang membuat pemerintah sempat membekukan keuangan Pertamina karena tidak mampu membayar utangnya.

"Akibatnya, sejak saat itu Pertamina dilarang oleh pemerintah untuk melakukan investasi yang memberikan risiko besar. Salah satunya pencarian atau eksplorasi migas. Saat itu pemeritah mengundang asing dan hanya asing yang diperbolehkan untuk mengeksplorasi migas di Indonesia," ungkap Ali.

Karena itu, pada tahun-tahun tersebut, perusahaan asing berbondong-bondong datang ke Indonesia untuk mengeksplorasi mencari cadangan-cadangan minyak dan gas di Indonesia.

"Dengan masuknya perusahaan asing dengan segala macam teknologi yang maju dan canggih tersebut, membuat mereka mendapatkan cadangan besar atau giant field," kata Ali.

Sementara Pertamina hanya diperbolehkan mengelola sumur-sumur minyak dan gas yang sudah dimilikinya saat itu.

"Memang pada saat eksplorasi migas biaya yang dibutuhkan sangat besar, tidak sedikit pula perusahaan asing gagal dan keluar dari Indonesia, tapi mereka yang berhasil, hingga sampai saat ini menikmati sekali apa yang didapatkan," tutur Ali.

Baru setelah Pertamina berubah menjadi Perseroan Terbatas (PT) pada 2003, pemerintah memperbolehkan Pertamina berinvestasi di hulu untuk mencari migas.

"Temua terakhir giant field baru di Jati Barat, selain itu belum ketemu lagi, selain itu Pertamina masih mengandalkan sumur-sumur migas yang dimilikinya yang berumur tua, kalau sudah tua ya produksinya sulit untuk digenjot," ulas Ali.

Untuk itulah, kata Ali, peran negara di sini diperlukan untuk mendukung ketersediaan energi oleh perusahaan minyak milik negara (NOC/National Oil Company).

"Di negara-negara yang memiliki NOC diberikan perlakuan khusus, seperti di Venezuela, Norwegia dan lainnya. Sekian puluh tahun perusahaan asing yang menguasai ladang minyak, setelah kontraknya habis semua diberikan ke perusahaan NOC. Jadi bentuk apapun aturan yang dibuat seharusnya mengarah kesana, untuk menjamin ketersediaan energi suatu negara," tandasnya.

Seperti diketahui, untuk estimasi lifting migas di 2013, Total E&P Indonesie dengan wilayah kerja Mahakam dan Tengah menjadi produsen terbesar dengan produksi 382,2 ribu barel setara minyak per hari. Lalu Chevron Pacific Indonesia di wilayah kerja Rokan dan Siak dengan estimasi produksi migas 335 ribu barel setara minyak per hari, dan Pertamina EP dengan wilayah kerja seluruh Indonesia estimasi produksi migas sebesar 290,3 ribu barel setara minyak per hari.


(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads