"Skema tahun depan kita ajukan 46,01 dengan harapan ketika tahun ini 44 harusnya memang naiknya sampai 48 juta kl," ujar Rudi ketika ditemui di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Minggu (16/9/2012).
Rudi menyatakan untuk menekan kuota ini pemerintah mengharapkan masyarakat serta industri mau ikut serta dalam upaya penghematan yang dilakukan pemerintah. Pasalnya, dengan pertumbuhan mobil sebesar 1 juta dan motor 7-8 juta pada tahun depan diperkirakan ada tambahan kebutuhan sekitar 1,5-2 juta kilo liter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Rudi mengharapkan konversi BBM ke BBG bisa terlaksana sepenuhnya pada tahun depan.
"Tetapi penghematan akan kita konsentrasikan betul juga dengan program penghematan BBM ke BBG-nya Bu Evita mudah-mudahan tahun depan bisa jalan. Kalau itu yang terjadi kemudian akan ada juga pengurangan. Dengan adanya pengurangan asumsinya bisa menjadi 46,01 juta kl," paparnya.
Namun, lanjut Rudi, ada cara yang paling mudah untuk menekan laju pertumbuhan permintaan BBM bersubsidi, yaitu dengan penyesuaian harga Premium. Dengan demikian, migrasi pengguna Pertamax ke Premium dapat ditekan.
"Yang mudah sebenarnya adalah penyesuaian harga yang dulu kita rencanakan naiklah misalkan Rp 500 kalau itu yang terjadi tidak akan ada yang pindah dari Pertamax ke Premium tapi sebaliknya dari Premium ke Pertamax kan menjadi bagian dari penghematan subsidi energi tapi itu masih jangka panjang entah kapan itu," paparnya.
Rudi menyatakan idealnya penyesuaian harga BBM yang masih sesuai dengan kondisi ekonomi masyarakat menjadi sekitar Rp 6.000 per liter.
"Tadi sudah saya katakan harga ideal Rp 6.000 sudah cocok, cocok dari segala aspek, baik keuangan. Negara sudah memperhitungkan dari sisi makro ekonominya dampak inflasinya sekitar 0,3 persen. Kemudian dari masyarakat kemampuan daya belinya kira-kira 6 ribu itu masih optimum lah. Semua pihak kira-kira akan happy dengan angka itu, tapi itu harapannya," tegasnya.
Sementara untuk mobil listrik, Rudi menyatakan program tersebut belum masuk dalam rangka penghematan subsidi BBM bersubsidi tahun depan. Hal ini disebabkan pelaksanaannya masih belum bisa dilakukan sepenuhnya.
"Kalau mobil listrik bukan bagian dari penghematan 2013. Tapi itu harus dilakukan. Kan ada teman-teman yang mengatakan kita mencla mencle, bukan! Dari BBM ke BBGnya Bu Evita tetap jalan, yang listrik jalan, yang penghematan jalan yang biosolar jalan semua, jalan tapi masing-masing ada mulai memulainya semua jalan," tandasnya.
(nia/dru)











































