Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman seperti dikutip, Senin (17/9/2012).
"Tarif listrik rata-rata kita paling rendah se-ASEAN," kata Jarman.
Dikatakan Jarman, dibandingkan dengan Filipina dan Vietnam, tarif listrik di Indonesia masih paling murah, apalagi dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia, jauh sekali tertinggalnya.
"Kita sama Philipina dan Vietnam masih tinggi tarifnya dibandingkan kita, padahal PDB Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan kedua negara tersebut, Indonesia cuma kalah PDB-nya sama Singapura dan Malaysia," ungkap Jarman.
Jarman berujar, rata-rata tarif listrik di negara-negara ASEAN berada di atas Rp 1.000 per kWH, sementara di Indonesia tarif listrik rata-rata Rp 729 per kWH.
"Tarif listrik di Indonesia rata-rata Rp 729 kWH, sementara di negara-negara ASEAN sudah di atas Rp 1.000 kWH. Padahal biaya untuk memproduksi listrik di Indonesia Rp 1.163 per kWH, tetapi dijual Rp 729 kWH selisih inilah yang jadi beban negara untuk memberikan subsidi," ungkapnya lagi.
Maka untuk mengurangi besaran subsidi listrik tersebut tahun depan, pemerintah mengusulkan adanya kenaikan tarif listrik, namun terkecuali untuk kalangan rumah tangga kecil yakni R1/450 VA dan R1/900 VA tidak dikenakan kenaikan tarif listrik tahun depan.
"Kedua golongan itu jumlahnya mencapai 39 juta lebih pelanggan atau sebesar 47,2% subsidi listrik jatuh ke dua golongan tersebut atau sebesar Rp 37,08 triliun," tandas Jarman.
(rrd/dnl)
