Presiden SBY mengaku tak senang anggaran subsidi yang jumlahnya begitu besar, khususnya terkait subsidi BBM. Subsidi BBM memang sudah tidak tepat sasaran. Selain dinikmati orang mampu yang tak berhak, juga diselundupkan ke industri.
"Keadaan fiskal harus dijaga. Subsidi besar itu merusak. Subsidi harus tepat sasaran," ujar SBY dalam Pembukaan Munas Alim Ulama dan Konbes Nahdlatul Ulama (NU) di Cirebon, Senin (17/9/2012).
Menurut SBY, tidak adil jika masyarakat kelas menengah dan kelas atas menikmati subsidi BBM ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, menurut laporan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) seringkali terjadi penyelundupan BBM subsidi yang jumlahnya lumayan. Terakhir, ada sekitar 1.700 KL BBM subsidi diduga yang diselundupkan di Kalimantan. Bahkan ada juga oknum aparat keamanan yang juga membekingi BBM subsidi untuk diselundupkan ke industri.
Dalam nota keuangan RAPBN 2013, pemerintah menetapkan besaran subsidi BBM jenis tertentu, LPG tabung 3 kg dan LGV 2013 yang mencapai Rp 193,8 triliun. Sebanyak 46 juta KL BBM subsidi disiapkan pemerintah tahun depan. Jumlahnya bukan menurun malah naik dan menggerus anggaran pemerintah, padahal tidak tepat sasaran.
Anggaran subsidi ini naik Rp 56,4 triliun bila dibandingkan alokasi anggaran subsidi BBM, tabung LPG 3 kg, dan LGV dalam APBN-P 2012 sebesar Rp 137,4 triliun (1,6% terhadap PDB). Dalam perkiraan realisasi 2012, realisasi subsidi BBM, LPG tabung 3 kg, dan LGV diperkirakan mencapai Rp 216,8 triliun.
Menteri ESDM Jero Wacik di DPR hari ini mengatakan, pemerintah sebenarnya tidak wajib memberikan BBM subsidi ke masyarakat. Namun pemerintah merasa banyak rakyat miskin yang belum sanggup membeli BBM non subsidi yang saat ini minimal harganya Rp 9.700 per liter.
(dnl/hen)











































