Kajian Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) terkait ekonomi Indonesia menyatakan, subsidi energi termasuk BBM dan listrik cuma menguntungkan orang kaya saja.
"Di 2009, 40% subsidi BBM untuk rumah tangga dinikmati oleh rumah tangga kaya. Hanya 1% dari rumah tangga golongan miskin yang menikmatinya," demikian hasil survei OECD yang dikutip, Kamis (27/9/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pembatalan kenaikan harga energi (BBM) ini bakal meningkatkan risiko pada fiskal atau anggaran pemerintah. Besarnya subsidi energi karena harga minyak ini bakal memangkas anggaran yang lain," kata OECD.
OECD berharap, subsidi energi dapat direalokasikan untuk program-program yang lebi berkualitas. Tapi langkah ini tampaknya menghadapi tantangan. Kebijakan subsidi berupa bantuan langsung tunai bisa dilakukan sehingga lebih tepat sasaran.
Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto pernah mengatakan, subsidi BBM tidak tepat lagi. Harga seliter BBM subsidi yang lebih murah dari 1 botol air mineral, sudah tidak masuk akal.
Menurut Suryo, subsidi energi (BBM dan listrik) yang mencapai hampir Rp 300 triliun dinilai terlalu besar, dan habis hanya untuk dibakar.
"Bayangkan kalau Rp 300 triliun tersebut dialihkan ke infrastruktur dan pendidikan. Banyak yang merasakan dampaknya, seperti pembangunan infrastruktur efeknya akan menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan geliat ekonomi, dan pengusaha pastinya akan memanfaatkannya juga. Bandingkan dengan subsidi BBM dan listrik saat ini, ya yang menikmati kita-kita ini (pengusaha) dan orang mampu," paparnya.
Sebelumnya, menurut laporan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas), seringkali terjadi penyelundupan BBM subsidi yang jumlahnya lumayan. Terakhir, ada sekitar 1.700 KL BBM subsidi diduga yang diselundupkan di Kalimantan. Bahkan ada juga oknum aparat keamanan yang juga membekingi BBM subsidi untuk diselundupkan ke industri.
Bahkan Menteri ESDM Jero Wacik mengakui, selama ini penyelundupan BBM subsidi makin banyak karena harga BBM subsidi yang terlalu murah yaitu Rp 4.500 per liter dibandingkan BBM non subsidi sekitar Rp 9.700 per liter.
Jero Wacik tak menampik adanya penyelundupan BBM subsidi. Bahkan menurut Jero, aksi penyelundupan BBM subsidi makin banyak walaupun sudah banyak yang tertangkap. Hal ini salah satunya disebabkan oleh makin lebarnya perbedaan harga antara BBM subsidi dengan BBM non subsidi.
"Kita sudah tangkap mereka, tapi yang menyelundup makin banyak lagi, semakin banyak akal-akalan mereka", kata Jero.
(dnl/ang)











































