Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa mengatakan, dulu dirinya sering melihat wajah Jero Wacik lebih klimis (licin/bersih) karena sering membuka peresmian hotel dan daerah pariwisata saat menjabat Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.
"Dulu wajahnya Pak Jero Wacik klimis, karena banyak buka hotel dan tempat pariwisata," kata Hatta dalam sambutan Rapat Kerja dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (1/10/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam rapat kerja DPD dengan pemerintah, dibahas soal perkembangan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Pihak pemerintah diwakili Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri PPN/Kepala Bappenas, Menteri ESDM, Menteri Pertanian, Menteri Kehutanan, dan Kementerian Lainnya.
Seperti diketahui, saat ini jatah BBM subsidi yang dialokasikan sebanyak 40 juta kiloliter (KL) habis dan tidak cukup. Akhirnya pemerintah meminta tambahan jatah 4 juta KL yang bakal membuat anggaran BBM subsidi membengkak menjadi sekitar Rp 216 triliun tahun ini.
Padahal, 77% BBM subsidi jatuh ke tangan yang tidak berhak. Contohnya, mobil mewah, kendaraan industri, dan bahkan diselundupkan ke luar negeri.
Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto pernah mengatakan, subsidi BBM tidak tepat lagi. Harga seliter BBM subsidi yang lebih murah dari 1 botol air mineral, sudah tidak masuk akal.
Menurut Suryo, subsidi energi (BBM dan listrik) yang mencapai hampir Rp 300 triliun dinilai terlalu besar, dan habis hanya untuk dibakar.
"Bayangkan kalau Rp 300 triliun tersebut dialihkan ke infrastruktur dan pendidikan. Banyak yang merasakan dampaknya, seperti pembangunan infrastruktur efeknya akan menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan geliat ekonomi, dan pengusaha pastinya akan memanfaatkannya juga. Bandingkan dengan subsidi BBM dan listrik saat ini, ya yang menikmati kita-kita ini (pengusaha) dan orang mampu," paparnya.
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) pernah menyatakan soal dugaan penyelundupan BBM subsidi sebanyak 1.700 kiloliter (KL) atau kira-kira setara 170 truk tangki BBM di Kalimantan Selatan yang tidak sampai ke SPBU.
Masih tepatkah pemberian BBM subsidi?
(rrd/dnl)











































