Hal tersebut seperti diungkapkan Manager Humas PT Pertamina EP, Agus Amperianto dimana sejak 3 Oktober sampai hari ini perusahaannya tidak bisa produksi minyak karena para pekerja tidak bisa masuk ke lokasi kerja.
"Pasalnya sampai saat ini akses menuju lokasi kerja dihalangi para pendemo sehingga tidak bisa masuk baik karyawan pertamina maupun kendaraan perusahaan," kata Agus ketika dihubungi detikFinance, Jumat (5/10/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita kehilangan produksi mencapai 1.500 bph," ungkapnya.
Dengan berhentinya produksi sejak 3 Oktober hingga saat ini, Pertamina EP kehilangan produksi minyak 4.500-5.000 barel.
"Itu kerugian kita, hilang 5.000 barel, jika diuangkan tinggal x (kali) harga minyak US$ 95 lalu x (dikali) kurs Rp 9.000, sehingga kerugian sekitar Rp 4,2 miliar lebih," ungkapnya lagi.
Bahkan kata Agus, demonstrasi hapuskan outsourcing tanggal 3 Oktober lalu hingga terjadi pemukulan terhadap 4 karyawan Pertamina EP serta perusakan fasilitas kantor.
"Ini sudah mengarah ke tindakan anarkis dan pidana, kami mengharapkan adanya jalan keluar dari BP Migas dan pihak keamanan," ucapnya.
Pihak keamanan dari Kepolisian dan TNI sampai saat ini ungkap Agus telah menjaga lokasi kantor, namun akibat akses jalan menurut kantor dan perusahaan 'diduduki' para pendemo.
"Mereka (pendemo) masih kongkow-kongkow di depan kantor, dan menutup akses jalan baik karyawan maupun kendaraan perusahaan. Polisi ada, TNI ada, cuma tidak bisa buka akses jalan, kami juga heran kemanapa aparat sampai 'tunduk' sama pendemo," tandasnya.
(rrd/dru)











































