Hal tersebut seperti diungkapkan Deputi Pengendalian Operasi Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) Gde Pradyana, hingga sampai saat ini Pertamina EP di lapangan Mundu, Indramayu tidak beroperasi dikarenakan aksi demonstrasi yang berujung anarkis dan mengakibatkan fasilitas produksi rusak.
“Sampai saat ini masih berhenti produksi, sejak awal demo tanggal 3 Oktober lalu sampai sekarang,” kata Gde ketika ditemui disela The 12 th Gas information Exchange in The Western Pacifik Area (Gasex 2012), Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Artinya per hari ini sudah 7 hari Pertamina EP di Mundu kehilangan kesempatan produksi, jika per hari 1.500 barel maka selama 7 hari Pertamina rugi dari produksi mencapai 10.500 barel (mencapai Rp 8,97 miliar),” ungkap Gde.
Gde mengharapkan masalah ini segera diselesaikan, pertama peran aparat keamanan serta percepatan perbaikan fasilitas produksi.
“Ke depannya kami menginginkan peran aparat keamanan ditingkatkan, bisa mengantisipasi tidakan anarkis seperti ini. Selain itu percepatan perbaikan fasilias yang rusak segera diselesaikan secara cepat, agar produksi bisa dimulai kembali, pasalnya berhentinya produksi minyak di Mundu mengakibatkan produksi minyak mentah Indonesia berkurang 1.500 barel per hari,” tandasnya.
(rrd/ang)











































