"Kalau sistemnya ada itu prosesnya bisa dijalankan, ujung-ujungnya kembali ke manusia, jadi sebagus apapun sistem yang dibuat Pertamina tapi masih ada manusia yang tidak disiplin, sistem apapun tidak akan jalan," kata Karen ketika ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (15/10/2012).
Karen menyebutkan untuk pengawasan BBM bersubsdi di kapal, pihaknya membuat perjanjian dengan pihak kapal untuk mengganti rugi sepenuhnya jika terdapat kekurangan volume BBM hingga ke tempat tujuan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kalau dibilang ada penyelundupan, yak ada penyelundupan. Msalnya tadi dibilang kapal mulai menyimpang tapi tidak ada kerugian karena pemilik kapal harus mengganti rugi," tambahnya.
Sementara untuk pendistribusian dari depo ke SPBU, Karen mengaku telah menyiapkan GPS untuk transporter BBM. Dengan demikian, dapat diketahui tempat-tempat yang disinggahi transporter tersebut.
"Kan masing-masing transporter itu sudah dikasih GPS jadi kalau mereka menyimpang atau mestinya sampai ke tempat itu 45 menit tapi satu jam itu kan bisa dilihat transporternya, itu bisa dikasih sanksi lagi," pungkasnya.
(nia/hen)











































