Sebelumnya Jero bertekad mempermudah perizinan proyek-proyek geothermal, karena Indonesia memiliki 40% cadangan geothermal dunia. Panas bumi dinilai sebagai energi yang lebih bersih dibanding BBM dan tidak menimbulkan karbondioksida (CO2).
"Proyek geothermal di Bedugul, Bali lebih banyak ributnya, jadi tidak jalan-jalan," kata Jero di sela acara Jero Wacik di sela acara The 19th Conference of the Electric Power Supply Industri di Bali Nusa Dua Convention Center, Senin (15/10/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebagian besar masyarakat yang menolak ini dikarenakan tidak mengerti, geothermal itu ternyata bagus, lebih bersih. Kalaupun dibor tanahnya, tidak akan membuat air di danau kering, atau tanamannya kekeringan, justru sebaliknya, seperti di PLTP Kamojang itu subur-subur saja tanamannya," ucap Jero.
Untuk itu, Jero akan melakukan pendekatan kepada masyarakat yang masih menolak proyek PLTP di Bedugul, dengan cara membawa masyarakat yang menolak untuk melihat langsung proyek-proyek geothermal di Indonesia.
"Biar mereka lihat dulu, ternyata manfaatnya banyak dan yang selama ini ditakutkan tidak terbukti, mereka menolak karena belum mengerti," ujarnya.
Selain itu, Jero juga meminta agar Gubernur dan DPRD Bali ikut berperan aktif memberikan pemahaman kepada masyarakat agar mengerti sehingga proyek PLTP Bedugul bisa segera berjalan.
"Saya meminta DPRD dan Gubernur Bali rapat dulu, kasih pengertian kepada masyarakat yang masih menolak, karena PLTP geothermal banyak manfaatnya, Bali punya potensi besar kok bangun geothermal," tandasnya.
Apalagi saat ini kata Jero, investor sedang semangat-semangatnya membangun proyek-proyek geothermal di Indonesia karena adanya feed in tarif yang baru dikeluarkan, di mana harganya bisa mencapai US$ 18-20 sen per Kwh.
"Saya saja baru beri izin 8 titik eksplorasi geothermal untuk perusahaan Turki. Karena kita sedang jadi pembicaraan dunia karena kebijakan yang tepat terkait feed in tarif panas bumi," tegasnya.
(rrd/dnl)











































