Minyak RI Banyak Dijarah Maling, Ini Rekomendasi Anggota DPR

Minyak RI Banyak Dijarah Maling, Ini Rekomendasi Anggota DPR

- detikFinance
Senin, 15 Okt 2012 18:19 WIB
Minyak RI Banyak Dijarah Maling, Ini Rekomendasi Anggota DPR
Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Hari ini Komisi VII DPR rapat bersama Polri, Pertamina, dan Bea Cukai terkait aksi pencurian minyak mentah dan penyelundupan BBM yang terjadi. Apa keputusan Komisi VII DPR?

Anggota Komisi VII DPR Satya W. Yudha mengatakan, aksi pencurian minyak di Indonesia saat ini sudah sangat terstruktur, dan melibatkan banyak masyarakat.

"Kabareskrim mengatakan tadi, Polri kewalahan menghadapi aksi ini. Karena begitu pelaku ditangkap dan diproses di pengadilan, hukumannya rendah. Itu berarti ada kerja lintas sektor. Saya rekomendasikan, pemerintah dikomandoi Menko Perekonomian atau Wakil Presiden mengkoordinir hal ini," tegas Satya kepada detikFinance, Senin (15/10/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Satya mengatakan, Komisi VII juga sedang mendiskusikan untuk dibuat Panja terkait aksi pencurian minyak ini. Tujuannya, adalah agar kinerja pemerintah dalam memberantas aksi pencurian minyak dan penyelundupan BBM bisa dimonitor terus menerus sampai tuntas.

"Kalau kita lihat, penyelundupan dan pencurian minyak ini sudah masif. Bahkan sudah jadi mata pencaharian masyarakat sehari-hari. Jadi keberadaan aparat keamanan tidak mudah. Mereka bisa dikeroyok masyarakat banyak. Karena itu kita meminta pemerintah terintegrasi mencegah pencurian dan penyelundupan ini. Kita butuh figur yang bisa mengkoordinasikan lintas sektor," papar Satya.

Diakui Satya, dari rapat tersebut terungkap adanya keterlibatan oknum pemerintah dan aparat keamanan dalam aksi pencurian minyak dan penyelundupan BBM ini.

"Tadi terungkap, pipa milik Pertamina bahkan sampai digergaji untuk diambil minyaknya. Terus pipa tersebut diganti, lalu digergaji lagi. Jadi ini sudah terus menerus. Kalau ada yang melarang, bisa diamuk amsyarakat," kata Satya.

Sebelumnya dalam rapat tersebut, Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan menyebutkan, terjadi kenaikan volume pencurian minyak mentah dari 2010 hingga 2012. Kehilangan minyak di pipa Tempino-Plaju Sumatera Selatan pada 2010 mencapai 8.120 barel, lalu di 2011 meningkat menjadi 94.529 barel, dan di 2012 sebesar 267.510 barel. Sejak 2010-2012, Pertamina rugi US$ 37 juta atau sekitar Rp 351 miliar akibat pencurian minyak tersebut.

Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komisaris Jenderal Sutarman juga mengatakan, para pencuri ini berani melancarkan aksinya karena diduga kuat dapat beking dari oknum pemerintah, polisi, dan TNI.

Sementara Dirjen Bea Cukai Agung Kuswandono menyebutkan, sepanjang 2011 dan 2012 ini, tercatat ada 9 kasus penyelundupan minyak mentah dan Bahan Bakar Minyak (BBM) pada 2011 dan sepanjang 2012. Paling banyak adalah usaha penyelundupan ke Malaysia.


(dnl/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads