Bos Pertamina Bantah Diam-diam Beli Perusahaan Minyak di Venezuela

Bos Pertamina Bantah Diam-diam Beli Perusahaan Minyak di Venezuela

- detikFinance
Senin, 15 Okt 2012 19:32 WIB
Bos Pertamina Bantah Diam-diam Beli Perusahaan Minyak di Venezuela
Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Pihak Pertamina menyatakan telah melapor kepada pemegang saham yaitu Kementerian BUMN selaku wakil pemerintah, dalam pembelian 32% saham Petrodelta, S.A, asal Venezuela milik Harvest Natural Resources.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan saat ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (15/10/2012).

"Sudah disampaikan ke komisaris, dan kami sudah minta persetujuan pemegang saham," tegas Karen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengatakan, Pertamina tidak bisa menjelaskan lebih jauh soal pembelian saham perusahaan minyak di Venezuela tersebut. Karena transaksi ini berhubungan dengan perusahaan terbuka yang terdaftar di bursa New York.

"Tolong dimengerti, bahwa kita ini berhubungan dengan perusahaan listed (terbuka). Sebetulnya pada saat berhubungan dengan perusahaan listed, kita tidak boleh berbicara apapun tentang ini sampai close (transaksi selesai). Ini media yang belum mengerti, karena kita kan sudah tandatangani perjanjian, ini kita bisa dituntut," tegas Karen menjelaskan.

Sebelumnya, Deputi Bidang Usaha Strategis dan Manufaktur Kementerian BUMN, Dwijanti Tjahjaningsih mengatakan pihaknya belum mendapat laporan resmi dari Pertamina terkait pembelian saham perusahaan minyak di Venezuela tersebut.

Selain pembelian saham perusahaan minyak di Venezuela, Karen juga menyatakan sedang dalam tahap negosiasi untuk membeli lapangan migas di Sudan. Namun Pertamina meminta diberikan lapangan migas yang sudah siap berproduksi.

"Kita masih mengajukan negosiasi, supaya jangan kasih yang eksplorasi. Karena untuk eksplorasi untuk development dan produksi butuh 8-10 tahun. Kalau boleh kita dapat yang development supaya lebih cepat untuk produksi," kata Karen.

Pihak Pertamina saat ini sedang bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mengkaji lapangan migas di Sudan.


(dnl/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads