Seperti diungkapkan Direktur Perencanaan dan Konstruksi PT PLN Nasri Sembayang, saat ini PLN sedang melakukan kajian untuk pembangunan pembangkit solar termal atau solar power di Pulau Flores, NTT.
"Kita sedang melakukan kajian untuk membangun pembangkit solar termal/power di Flores, NTT," kata Nasri ketika ditemui The 19th Conference of the Electric Power Supply Industry (Cepsi) di Bali Nusa Dua Convention Center, Rabu (17/10/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita rencananya akan bangun pembangkit solar termal dengan kapasitas 5 megawatt dengan biaya US$ 5 juta per megawatt," ungkapnya.
Diakui Nasri, investasi membangun pembangkit EBT dengan solar termal yang menggunakan tenaga matahari sangat mahal.
"Memang sangat mahal, tapi jangan lihat saat ini, tapi dampaknya setelah 10-15 tahun ke depan, biaya seluruhnya justru lebih murah karena jika dibandingkan membangun pembangkit listrik berbahan bakar minyak. Kalau minyak biayanya US$ 30-45 sen per Kwh, kalau ini hanya sekitar US$ 16 sen per Kwh, apalagi hanya mengandalkan sinar matahari yang gratis tanpa harus produksi dan beli seperti BBM," jelasnya.
Tidak hanya itu, kata Nasri, di Spanyol teknologi solar termal sudah digunakan bahkan mampu berkapasitas mencapai 20 MW.
"Di negara-negara lain sudah digunakan teknologi solar termal ini, bahkan ada yang mencapai kapasitas 20 MW. Kita harapkan rencana pembangkit di solar termal di Flores ini bisa mulai terbangun pada 2014," katanya lagi.
Saat ini, ujar Nasri, PLN dan swasta memang gencar membangun pembangkit EBT, namun pembangkit yang dibangun tersebut lebih banyak di daerah-daerah pelosok.
"Karena pembangkit EBT ini daya kapasitasnya kecil-kecil rata-rata hanya 1-2 MW saja, sementara pembangkit berskala besar di daerah berpenduduk banyak PLN memfokuskan membangun pembangkit menggunakan batubara (PLTU) atau gas (PLTG) di mana kapasitasnya bisa mencapai 2.000-3.000 MW," kata Nasri.
(rrd/dnl)











































