Kepala BP Migas R. Priyono menyatakan penurunan produksi minyak ini adalah warisan sejak tahun 1996.
"Kondisi minyak bumi cenderung menurun, padahal minyak menjadi sumber utama energi nasional. Kita telah mengalami 2 puncak produksi minyak pada tahun 1997 dan 1995. Sampai sekarang, terjadi penurunan 800 bph, dari 1,6 juta bph ke 800 ribu bph. Maka periode penurunan produksi itu mulai 1996, di mana BP Migas belum hadir di sana," ujar Priyono dalam rapat dengan Komisi XI DPR yang dilakukan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (17/10/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk mencapai target 1 juta bph, kita masih mengharapkan proyek di Cepu," tegasnya.
Priyono menyebutkan, pada tahun ini produksi minyak diperkirakan hanya sebesar 870 ribu bph atau turun 3,6% dari produksi tahun lalu sebesar 902 ribu bph.
Penurunan produksi ini disebabkan 4 hal, yaitu tidak kembalinya produksi Chevron Pacific Indonesia (CPI) sebagai akibat pecahnya pipa TGI di Lapangan Duri sebesar 25 ribu bph. Kemudian, efek tertundanya keputusan operator baru, Kodeco/PHE di West Madura Offshore (WMO), penurunan di Lapangan Tunu dan Peciko, serta kerusakan pada fasilitas produksi.
"Ternyata ada yang masalahnya dari tahun lalu, tapi dampaknya masih terasa sampai sekarang," jelasnya.
Priyono menyebutkan pada September 2012, realisasi produksi minyak rata-rata Indonesia mencapai 868 ribu bph. Diperkirakan realisasi yang sama juga dihasilkan pada Oktober. Sementara untuk November diperkirakan produksi minyak bisa mencapai 869 ribu bph.
Namun, jika pihaknya tidak melakukan tindakan apa-apa maka produksi minyak hingga akhir tahun hanya mencapai 659,4 ribu bph, tetapi dengan upaya keras maka diharapkan 870 ribu bph dapat tercapai. Tahun depan, target produksi minyak Indonesia adalah 900 ribu bph.
(nia/dnl)











































