Menurutnya, belum tercapainya produksi minyak bukanlah disebabkan ketidakmampuan BP Migas menggenjot produksi tersebut, tetapi kondisi alam yang tidak memungkinkan untuk membuat produksi tersebut naik.
"Apa-apa bubarkan BP Migas, ada nenek-nenek kejepit, bubarkan BP Migas, pokoknya ada yang salah di masyarakat, arahnya salahkan BP Migas. Saya dapat amanah dari Presiden dan DPR makanya saya akan bertahan, untuk negara saya bertahan," tegasnya di Komisi VII DPR RI, Jakarta, Rabu (17/10/2012)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya berhasil menurunnya jangan sampai 12 persen, jadi ditahan sampai 3 persen saja, jadi tidak bisa naikin 1 persen karena kita berhadapan dengan alam, ribuan sumur minyak dari Sabang sampai Merauke," ujarnya.
Priyono juga mengungkapkan dirinya juga sangat mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan apapun. Termasuk masalah negosiasi hasil gas dan minyak dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
"Pada praktiknya, kami telah lakukan aturan perminyakan asing. Kalau tidak menuruti tata aturan, maka saya minta antar oleh imigrasi dengan sopan ke bandara. Kalau tidak aturan pemerintah, misalnya anda tidak mau memberikan gas ke Jawa dari Total, kami ajukan ditjen imigrasi untuk antar orang itu ke bandara tidak bawa apa-apa atau tanda tangan anda kirim gas ke Jawa Bali. Besoknya dia tanda tangan kirim gas ke Jawa Bali," ujarnya.
"Ada kasus di Batam, gelap gulita, dan waktu itu Pak Poernomo (Menteri ESDM) tanya Pri bagaimana ini Batam gelap sedangkan Singapura terang benderang. Oke Pak, besok akan terang. Saya panggil pengusaha Singapura itu, Anda mau kontrak jangka panjang atau pendek. Kalau jangka panjang kasih gasnya kamu ke Batam dulu. Kalau jangka pendek, biarkan Batam gelap, tapi saya tidak akan kasih gas lagi ke Singapura. Akhirnya langsung nyala Batam, beres. Caranya injek kakinya," tambah Priyono.
Priyono menambahkan negosiasi itu bukanlah perkara mudah. Bahkan ia berani mempertaruhkan jabatannya untuk kepentingan negara.
"Taruhan saya tidak menjadi kepala BP Migas, tidak apa-apa, asal harga diri bangsa ini tidak diinjak-injak. Kalau urusan negara tidak ada tawar menawar bisa tanya ke duta besar Singapura dan Malaysia," tandasnya.
(nia/hen)











































