"Nilai investasi US$ 850 juta. Pembiayaan dari sponsor dan konsorsium JBIC (Japan Bank International Coorperation) dan K-EXIM (Korea Eksport Import), dan bank komersial lain," kata Komisaris Cirebon Electric Power (CEP) Amin Subekti di Hotel Santika Cirebon, Kamis (18/10/2012).
Pembangunan yang dimulai April 1998 ini merupakan proyek monumental karena Jepang masih percaya kepada Indonesia untuk berinvestasi infrastruktur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rencananya PLTU unit 1 berkapasitas 1x 660 MW membutuhkan batubara sebanyak 2,85 juta ton, kebutuhan batubara didatangkan dari 2 perusahaan besar batubara Kiniko dan Adaro. "Batubaranya dari Kiniko dan Adaro, setahun butuh 2,85 juta ton plus minus 10%,"tuturnya.
Pemegang saham PLTU Cirebon ini dipegang antaralain:
- Marubeni Co sebesar 32,5%,
- Korea Midlane Power Co 27,5%
- Satlan Korea 20% dan
- Indika Energi 20%.
Amin mengaku target pembangunan PLTU tidak terlambat dan nantinya tarif yang dikenakan oleh PLTU ini sebesar 4,43 sen/kwh.
"Kita diberikan target Oktober tahun lalu selesai, Maret 2013 diberikan PLN untuk produksi jadi kita tidak terlambat. Ini 2% dari kapasitas nasional, kontrak 30 tahun dengan PLN. Harga per kwh 4,43 sen untuk kebutuhan Jawa dan Bali,"tutupnya.
(wij/hen)











































