Dikutip dari AFP, Minggu (21/10/2012), Amerika Serikat (AS) dan Israel yang sebelumnya melakukan sabotase terhadap program nuklir Iran, justru sekarang ini kedua negara itu khawatir akan menjadi korban adanya serangan virus komputer.
"Ada usaha dalam melancarkan serangan terhadap infastruktur komputer milik Israel," kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Virus itu pun telah merusak Rasgas, perusahaan joint venture antara perusahaan minyak Amerika Serikat, Exxon Mobil Corp dan Qatar Petroleum. Panetta menyebut virus itu adalah virus paling mematikan hingga saat ini.
Virus itu telah menyerang Aramco yang merupakan perusahaan minyak dan gas terbesar di dunia. Walaupun virus itu menyerang jaringan internal perusahaan, namun hal itu tidak mengganggu produksi minyak dan gasnya. Namun ada kemungkinan virus itu bisa merusak infrastruktur yang sangat penting.
Seorang staf senior administrasi AS yang tak mau disebutkan namanya mengatakan, serangan virus terhadap perusahaan minyak ini diyakini bersumber dari 'state actor' yaitu dicurigai Iran adalah tersangka utamanya.
"Staf ahli Amerika memiliki lebih dari sekadar kecurigaan, bahwa Iran telah disalahkan terkait penyerangan pada bulan Agustus," ungkap James Lewis, yang telah bekerja di State Department, dan beberapa agen pemerintahan Amerika.
Ia mengatakan, Amerika Serikat digunakan sebagai spionase dari Rusia dan China, namun terkejut oleh kemampuan perang dari Iran. "Kebanyakan orang tidak pernah berpikir ini akan terjadi begitu cepat," ungkapnya.
Namun, bukan hal yang mengejutkan untuk Iran memiliki kemampuan seperti ini. Mengingat negara ini memiliki ratusan sentrifugal untuk memperkaya kembali uranium yang dihancurkan oleh virus Stuxnet pada tahun 2010.
Hal ini dipercaya adalah ulah dari Amerika dan Israel yang meyakini bahwa nuklir Iran memiliki program yang bertujuan untuk membuat bom. Namun, pihak Iran mengatakan program nuklir itu hanya untuk perdamaian.
Kepala Sekolah Warfare Ekonomi di Paris, mengatakan bahwa sulit sekali untuk membatalkan ikatan virus ini. Dan ini juga bisa berarti perang propaganda. Ia menambahkan, Iran bisa jadi berada di belakang semua ini, namun hal ini juga bisa melemahkan Iran yang sudah dibawah embargo internsional atas program nuklirnya.
(zul/hen)











































