Tawaran Petronas Beli Perusahaan Gas Kanada Rp 47 Triliun Ditolak

Tawaran Petronas Beli Perusahaan Gas Kanada Rp 47 Triliun Ditolak

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Senin, 22 Okt 2012 11:04 WIB
Tawaran Petronas Beli Perusahaan Gas Kanada Rp 47 Triliun Ditolak
Menara Petronas (Angga/detikFinance)
Jakarta -

Pemerintah Kanada menolak tawaran akuisisi perusahaan gas oleh Petronas senilai US$ 5,2 miliar (Rp 47 triliun) di negaranya. Pasalnya, tawaran itu dinilai tidak menguntungkan bagi negara.

Petronas berniat membeli perusahaan energi asal Kanada Progress Energy Resources. Atas penolakan ini, Petronas punya waktu 30 hari untuk menaikkan tawaran atau membatalkan rencana tersebut.

Beberapa analis menilai langkah yang dilakukan pemerintah Kanada ini menimbulkan banyak tanda tanya soal kemudahan menanamkan investasi di negara tersebut. Langkah ini juga menjadi pertanyaan bagi aksi korporasi yang serupa, yaitu tawaran BUMN China, CNOOC, untuk membeli Nexen Rp 135 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jika mereka (Pemerintah Kanada) bisa menolak Petronas, berarti kabar buruk bagi Cnooc," kata Laban Yu, analis energi dari Jefferies di Hong Kong dikutip dari BBC, Senin (22/10/2012).

Padahal, tawaran perusahaan energi asal Malaysia itu sudah disepakati sebelumnya pada Juni tahun ini. Anehnya, tawaran itu tiba-tiba dianggap 'tidak memberikan keuntungan kepada negara' kata Menteri Perindustrian Kanada dalam keterangan tertulis Jumat lalu.

Akuisisi ini bisa memberikan Petronas akses ke cadangan gas alam di provinsi Montney, yaitu British Columbia dan Alberta, cadangan yang selama ini banyak diperebutkan perusahaan gas di seluruh dunia.

CEO Progress Energy Resources, Michael Culbert, menyatakan kekecewaannya terhadap pemerintah Kanada yang tidak merestui rencana ini.

"Selanjutnya kami akan membahas kembali dalam 30 hari ke depan untuk menentukan langkah selanjutnya," ujarnya.

"Kelangsungan industri gas alam di Kanada untuk jangka panjang, termasuk ekspor LNG, sangat tergantung pada investasi asing, salah satunya oleh Petronas," imbuhnya.

Pihak Petronas sendiri tidak mau berkomentar atas hal ini ketika dihubungi oleh BBC.

(ang/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads