Bahkan dari sisi konsumsi listrik yang tercermin dari tagihan listrik masih sangat rendah. Jika dibandingkan tagihan listrik se-Papua dalam 9 bulan hanya, jumlah itu hanya setengah dari tagihan listrik per bulan sebuah pusat perbelanjaan (mal) besar.
"31% rasio elektrifikasi di Papua (Papua dan Papua Barat) selebihnya belum teraliri listrik," kata General Manager PLN Cabang Papua dan Papua Barat Robert Sitorus saat ditemui di Pegunungan Bintang Papua, Selasa (23/10/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Salah satunya geografis yang berat untuk dijelajahi," imbuhnya.
PLN berkomitmen akan terus meningkatkan kapasitas listrik kepada masyarakat Papua. Sampai September 2012 (9 bulan) tercatat tagihan listrik se-Papua hanya sebesar Rp 570 juta. Pada 2013, PLN cabang Papua dan Papua Barat menargetkan penambahan pemakai listrik masyarakat Papua hingga 60%.
"Penjualanan listrik sampai September 2012 sebesar Rp 571 juta dari 316.819 pelanggan PLN. Rasio baru 31% masyarakat Papua dan Papua Barat berlistrik. 2013 harus bertambah 177.000 pelanggan agar tercapai 60%," pungkasnya.
Sebagai pembanding saja, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan pernah mengatakan tagihan listrik satu mal bisa mencapai Rp 1 miliar per bulan.
"Mal-mal di Indonesia hanya berjumlah 200 mal. Satu bulan saya perkirakan hanya memakan biaya listrik Rp 1 miliar per unitnya, artinya kurang lebih Rp 200 miliar," imbuh Stefanus waktu itu.
(wij/hen)










































