Pengusaha SPBU atau dealer yang berada di bawah naungan Petronas tak tahu persis mengapa pihak PT Petronas Niaga Indonesia (Petronas) menghentikan sepihak suplai BBM ke SPBU. Tindakan ini membuat para pengusaha SPBU harus kehilangan potensi keuntungan dan menanggung beban tenaga kerja.
Kuasa hukum para dealer Petronas, Florianus mengatakan sebelum adanya penghentian suplai BBM terakhir 31 Oktober 2012, pihak Petronas melayangkan surat pemberitahuan soal rencana penghentian suplai BBM. Namun Florianus tak tahu apa penyebab pasti pihak Petronas melakukan tindakan tersebut.
"Di dalam surat yang diterima sekitar pertengahan bulan Agustus 2012, menyatakan alasan Petronas karena berakhirnya dia (Petronas) punya kontrak dengan depot minyak," kata kuasa hukum 8 dealer Petronas, Florianus kepada detikFinance, Selasa (23/10/2012)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bisa ditanyakan ke mereka apa alasannya, mungkin alasan bisnis, itu harus ditanyakan ke Petronas Niaga Indonesia," kilahnya.
Sebelumnya ia mengatakan sebanyak 8 pengusaha SPBU Petronas menuntut ganti rugi hingga Rp 200-an miliar kepada PT Petronas Niaga Indonesia (Petronas). Hal ini terkait penghentian sepihak suplai BBM dari Petronas ke SPBU-SPBU jaringan mereka mulai 31 Agustus 2012.
"Klien kami yang terdiri dari 8 diler (SPBU), mencakup 8 orang menuntut ganti rugi sekitar Rp 200-an miliar, itu sudah termasuk kerugian imateril masing-masing per diler Rp 5 miliar," katanya.
Florianus menuturkan permintaan ganti rugi itu merupakan buntut dari langkah PT Petronas Niaga Indonesia menghentikan suplai secara sepihak kepada para diler SPBU.
Anggota Komite Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) Ibrahim Hasyim pernah mengatakan bahwa tutupnya SPBU Petronas lebih karena keputusan bisnis yang keliru dan strategi bisnis yang tidak tepat.
"Inikan bisnis biasa, pertimbangan bisnis mereka buka SPBU di Indonesia karena perkiraannya harga BBM (subsidi) di Indonesia menjadi harga keekonomian. Jadi kalau harganya keekonomian dia (Petronas) bisa hidup, tapi ternyata mereka lihat BBM-nya nggak jadi naik-naik, makanya ditutupin satu-satu," kata Ibrahim.
Apalagi, ujar Ibrahim, lokasi-lokasi SPBU Petronas khususnya di Jakarta, banyak berada di tengah kota dan dikepung SPBU-SPBU Pertamina, Shell, dan Total. "Kebetulan lokasi mereka banyak di kota besar, dampaknya pompa bensin banyak sekali di sampingnya SPBU Petronas," ucap Ibrahim.
(hen/dru)











































