Demikian disampaikan Pengamat ekonomi Umar Juoro dalam Seminar Perbanas "Kongres XVIII Tahun 2012βKrisis Global: Peluang dan Tantangan Perbankan Nasioal ke Depan" di Jakarta, Rabu (31/10/2012).
"Subsidi energi khususnya BBM yang tidak suistainable harus dikurangi," jelas Umar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berapapun tambahan kuotanya tidak akan memenuhi kebutuhan," paparnya.
Namun patut dicatat, kenaikan harga BBM akan meningkatkan inflasi seperti disampaikan Kepala Ekonom Bank Danamon Anton Gunawan. Asumsi harga BBM meningkat Rp 1.500, mengambil porsi tambahan inflasi 2,5-3%.
"Inflasi akan lompat tinggi untuk naikan BBM. Bisa sekitar 9%, dan jika demikian BI Rate akan naik," ucapnya.
Memang dalam RAPBN 2013, pemerintah masih membuka peluang untuk menaikan harga BBM setelah dalam tiga tahun 'melempar' kebijakan ini kepada DPR.
"Tahun depan, BBM kembali ke pemerintah, apalagi jika ICP sudah diatas US$ 120 (per barrel), mungkin BBM naik," tambah Anton.
Sementara, taksiran kenaikan inflasi tahun depan akibat naiknya tarif listrik relatif terjaga pada level 0,5%. "Tahun depan ada kenaikan TDL, inflasi 0,5% pada tahun 2013. Harga pangan juga naik, krn musim tanam mundur dan bulog kekurangan stok." Paparnya.
"Kalau (Bulog) nggak impor, inflasi akan naik beberapa puluh basis poin, dgn asumsi bbm tidak naik," imbuhnya.
(wep/dru)











































