Jatah BBM Subsidi 46 Juta Kiloliter di 2013 Bakal Jebol, kecuali Harga Naik

Jatah BBM Subsidi 46 Juta Kiloliter di 2013 Bakal Jebol, kecuali Harga Naik

Rista Rama Dhany - detikFinance
Kamis, 01 Nov 2012 19:22 WIB
Jatah BBM Subsidi 46 Juta Kiloliter di 2013 Bakal Jebol, kecuali Harga Naik
Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Pemerintah dan DPR sepakat jatah atau kuota BBM subsidi di 2013 adalah 46 juta kiloliter (KL), naik 2 juta KL dari 2012 yakni 44 juta KL. Tapi kuota ini bakal jebol, kecuali harganya dinaikkan

Demikian disampaikan Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (1/11/2012).

"Kuota 46 juta KL? Berat, kemungkinan besar bakal jebol. Kuota itu cukup kalau tahun depan harga BBM naik," tegas Rudi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alasannya, kata Rudi, karena tingginya pertumbuhan ekonomi, pertambahan jumlah kendaraan tiap tahunnya, dan harga BBM subsidi yang murah.

Dikatakan Rudi, tahun depan pemerintah mendapatkan lampu hijau untuk menaikkan harga BBM subsidi, di samping yang sudah pasti yakni kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) 15%.

"Tapi walau dapat lampu hijau, belum tentukan akan juga dinaikkan kan tahun depan. Tergantung situas eksternal dan internal negara ini, dan keputusan kenaikan BBM juga bukan di Menteri ESDM, tetapi ada di tangan Menteri Keuangan," tutur Rudi.

Nantinya, kata Rudi, Menteri Keuangan akan mempertimbangkan apakah harga BBM bisa dinaikkan atau tidak dengan melihat beberapa indikator misalnya harga minyak dunia, kondisi ekonomi Indonesia.

"Jadi kalau harga minyak dunia naik cukup tinggi dan ekonomi Indonesia sehat mungkin saja harga BBM dinaikkan, tapi kalau harga minyak dunia naik tinggi tapi ekonomi kita tidak sehat ya pasti tidak akan dinaikkan, dan kalau harga minyak dunia terus turun, ekonomi baik ya harga BBM tidak jadi naik," jelas Rudi.

Namun keinginan Kementerian ESDM, sudah sejak awal tahun lalu harga BBM subsidi dinaikkan.

"Kalau dari kita ya tentu sejak awal tahun harga BBM dinaikkan, kenapa? Karena subsidinya sangat besar, Rp 300 triliun hanya untuk dibakar habis, kalau digunakan untuk bangun infrastruktur seperti Jembatan Selat Sunda saja itu sudah dapat dua jembatan, atau untuk bangun jalan sudah bisa bangun jalan 10.000 KM dan itu jalan gratis bukan jalan tol," tegas Rudi.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads