Rudi mengatakan 3 usulan opsi kenaikan harga BBM subsidi tersebut dianggap tidak memberatkan rakyat namun meringankan beban APBN karena dengan menaikan harga BBM subsidi maka subsidi BBM berkurang.
"Ada 3 skema atau opsi dari saya, bukan dari pemerintah, jika BBM subsidi nantinya diputuskan naik 2013," kata Rudi di Jakarta, Senin (5/11/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertama langsung naikkan harga BBM subsidi Rp 1.500 per liter atau menjadi Rp 6.000 per liter, dengan langsung menaikan Rp 1.500 maka negara bisa menghemat subsidi BBM hingga Rp 60 triliun," ungkap Rudi.
Namun jika itu dianggap terlalu memberatkan rakyat, ada opsi kedua yaitu menaikan harga BBM secara bertahap, yakni per triwulan (empat bulan) sekali Rp 500 per liter.
"Kalau berat, opsi kedua naikan harga BBM secara bertahap per triwulan atau empat bulan sekali Rp 500 per liter, sehingga dalam setahun harga BBM subsidi menjadi Rp 6.000 per liter. Opsi ini, dapat membuat negara menghemat subsidi BBM mencapai Rp 40 triliun," ujar Rudi.
Rudi menambahkan jika kenaikan BBM bertahap per triwulan sebesar Rp 500 per liter dianggap masih memberatkan, maka opsi ketiga kenaikan harga BBM bisa dinaikkan tiap bulan Rp 100-150 per liter.
"Ya kalau Rp 500 per liter per triwulan masih berat juga maka kenaikannya paling ringan dan tidak terasa yakni harga BBM subsidi dinaikan Rp 100-150 per liter per bulan sampai menyentuh angka Rp 6.000 per liter BBM subsidi," tuturnya.
Ditambahkan Rudi, pemerintah tahun depan telah mendapatkan lampu hijau dari DPR untuk menaikan harga BBM subsidi.
"Namun kenaikan harga BBM subsidi masih tergantung kondisi eksternal dan internal negara ini. Nanti yang menentukan naik atau tidaknya BBM subsidi ada di Menteri Keuangan. Jika harga minyak dunia naik tinggi dan kondisi ekonomi bagus dan rakyat siap maka harga BBM dinaikkan, tetapi kalau harga minyak dunia naik tinggi tapi kondisi ekonomi Indonesia dan rakyat belum siap ya tidak akan dinaikkan harganya," katanya.
(rrd/hen)











































