"Di sini, SPBU buka rata-rata 2-3 jam setiap hari dari jam 7, ada jam 8 pagi. Kalau kita dapat beli BBM di SPBU, itu keajaiban," kata Andriyawan, salah seorang warga Muara Lawa, Kutai Barat, ketika dihubungi detikFinance, Kamis (22/11/2012) malam.
Di Kecamatan Muara Lawa, sambung Andriyawan, SPBU yang ada didominasi mobil dan truk pengetap yang rela antre sejak malam hari, untuk memperoleh BBM solar dan premium.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pernah kita minta petugas kepolisian, kita minta bantuan supaya membantu kami beli premium di SPBU. Jadi, SPBU yang tutup, buka lagi untuk melayani roda dua," tambahnya.
Tidak berbeda dengan Andriyawan, Matius, warga kecamatan Barong Tongkok juga menyampaikan hal senada. Di Barong Tongkok, operasional SPBU seperti telah dijadwalkan.
"Seminggu bisa hanya 4 kali saja buka. Ya, banyak juga mobil dan truk pengetap yang menunggu SPBU buka sejak malam hari," ujar Matius.
"Antrean yang menunggu itu hampir tidak ada yang roda dua. Itu semua yang antre mobil dan truk pakai solar. Antreannya kalau malam bisa sampai 1-2 kilometer," tambah Matius.
Kondisi itu, mengganggu aktivitas jam kerja sehari-hari. Praktis, warga pemilik kendaraan roda dua, hanya mengandalkan premium eceran yang dijual Rp 7.000 per liter.
"Kadang juga ada yang jual Rp 10.000 per liter. Di sini tidak usah heran lagi, kalau beli di SPBU itu susahnya bukan main. Mau tidak mau, beli eceran. Kalau ikut antre, ya mana bisa masuk kerja tepat waktu," keluh Matius.
Keluhan warga Kutai Barat itu, juga sebelumnya dibenarkan PT Pertamina (Persero) yang menyebutkan 3 kabupaten di Kalimantan Timur seperti Kutai Barat, Penajam Paser Utara dan Berau, mendapat perhatian lebih lantaran masyarakat setempat kesulitan beli BBM di SPBU. Meski begitu, Pertamina mengklaim tetap mendistribusikan BBM ke SPBU sesuai kuota.
(dnl/dnl)











































