Jero Wacik Minta Pertamina Berkorban demi BBM Subsidi

Jero Wacik Minta Pertamina Berkorban demi BBM Subsidi

- detikFinance
Jumat, 30 Nov 2012 16:15 WIB
Jero Wacik Minta Pertamina Berkorban demi BBM Subsidi
Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Meskipun telah ditambah jatah atau kuotanya menjadi 44 juta kiloliter (KL), namun BBM subsidi di 2012 bakal habis sebelum akhir tahun. Pemerintah butuh tambahan, dan meminta Pertamina berkorban. Kenapa?

Pemerintah meminta tambahan jatah BBM subsidi 1,2 juta KL hingga akhir tahun dan akan diajukan ke DPR. Namun jika anggarannya tidak bisa didapat tahun ini, maka pemerintah akan mengutang sekitar Rp 6 triliun ke Pertamina dan akan dibayar tahun depan.

"Pembayaran kapan? Nanti ini urusan kita, urusan menteri keuangan nanti gimana caranya. Kalau bisa dibayar di APBN-P ya di APBN-P. Kalau tidak ngutang sedikit, Pertamina berkorban sedikit. Kalau untuk rakyat semua harus mau berkorban, jangan semua tidak mau berkorban ini bagaimana? Semua mau berkorban," tegas Menteri ESDM Jero Wacik saat ditemui di Hotel Sahid, Jakarta, Jumat (30/11/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikatakan Jero, dirinya akan menemui Komisi VII DPR pekan depan untuk membicarakan mengenai permintaan tambahan kuota BBM subsidi tersebut.

"Ini bukan soal politik, ini soal rakyat apalagi mau libur Natal, tahun baru sehingga harus siap. Betul betul siap BBM-nya. Nah BBM yang non subsidi itu siap banget ada semua, yang terbatas itu BBM subsidi ini yang kita memang dibatasi itu saja," jelas Jero.

Menurut Jero, kuota atau jatah bensin premium akan habis pada 23 Desember 2012. Saat itulah dibutuhkan kuota tambahan yang akan dikucurkan pemerintah.

Seperti diketahui, anggaran subsidi BBM di 2012 meningkat dari Rp 137 triliun menjadi Rp 219 triliun akibat adanya tambahan kuota BBM subsidi dari 40 juta KL menjadi 4,4 juta KL. Tapi ternyata jatah tersebut belum cukup dan pemerintah minta tambahan lagi 1,2 juta KL dengan nilai sekitar Rp 6 triliun.

Dalam APBN-P 2012 disetujui anggaran subsidi energi Rp 225 triliun, dengan rincian subsidi BBM Rp 137 triliun, subsidi listrik Rp 65 triliun, dan cadangan risiko fiskal energi Rp 23 triliun.

Sebelumnya, Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto pernah mengatakan, subsidi BBM tidak tepat lagi. Harga seliter BBM subsidi yang lebih murah dari 1 botol air mineral, sudah tidak masuk akal.

Menurut Suryo, subsidi energi (BBM dan listrik) yang mencapai hampir Rp 300 triliun dinilai terlalu besar, dan habis hanya untuk dibakar.

"Bayangkan kalau Rp 300 triliun tersebut dialihkan ke infrastruktur dan pendidikan. Banyak yang merasakan dampaknya, seperti pembangunan infrastruktur efeknya akan menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan geliat ekonomi, dan pengusaha pastinya akan memanfaatkannya juga. Bandingkan dengan subsidi BBM dan listrik saat ini, ya yang menikmati kita-kita ini (pengusaha) dan orang mampu," paparnya.

Laporan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) juga mengatakan, seringkali terjadi penyelundupan BBM subsidi yang jumlahnya lumayan. Terakhir, ada sekitar 1.700 KL BBM subsidi diduga yang diselundupkan di Kalimantan. Bahkan ada juga oknum aparat keamanan yang juga membekingi BBM subsidi untuk diselundupkan ke industri.


(dnl/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads