Anggota DPR: Demi Rakyat, Izin Penambahan BBM Subsidi Selesai 1 Hari

Anggota DPR: Demi Rakyat, Izin Penambahan BBM Subsidi Selesai 1 Hari

- detikFinance
Sabtu, 01 Des 2012 14:49 WIB
 Anggota DPR: Demi Rakyat, Izin Penambahan BBM Subsidi Selesai 1 Hari
Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Pemerintah melalui Menteri ESDM Jero Wacik berencana bertemu Komisi VII DPR pekan depan untuk meminta tambahan jatah BBM subsidi 1,2 juta kiloliter (KL). Anggota DPR berjanji tak mau memperlambat proses persetujuan.

Wakil Ketua Komisi VII DPR Achmad Farial mengatakan, cukup 1 hari saja untuk mengesahkan pembahasan penambahan kuota BBM tersebut.

"Jika untuk kepentingan rakyat selesai 1 hari. Saya juga mengingatkan bagi yang tidak berhak jangan menggunakan BBM subsidi," usai diskusi Polemik di rumah makan kawasan Cikini Jakarta, Sabtu (1/12/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Farial mengatakan, saat ini pihak Komisi VII DPR belum menerima permohonan penambahan jatah BBM subsidi tersebut. "Jadi sampai kemarin belum ada surat permohonan," ungkap Farial.

Farial mengaku sah-sah saja bila permohonan pemerintah untuk meminta tambahan kuota sebesar 1,2 juta KL adalah untuk kepentingan masyarakat.

"Kalau nanti kita bahas di dewan alasan mengapa kita setujui, karena kasihan masyarakat. Kita (DPR) pro terhadap rakyat," katanya.

Seperti diketahui, anggaran subsidi BBM di 2012 meningkat dari Rp 137 triliun menjadi Rp 219 triliun akibat adanya tambahan kuota BBM subsidi dari 40 juta KL menjadi 4,4 juta KL. Tapi ternyata jatah tersebut belum cukup dan pemerintah minta tambahan lagi 1,2 juta KL dengan nilai sekitar Rp 6 triliun.

Dalam APBN-P 2012 disetujui anggaran subsidi energi Rp 225 triliun, dengan rincian subsidi BBM Rp 137 triliun, subsidi listrik Rp 65 triliun, dan cadangan risiko fiskal energi Rp 23 triliun.

Sebelumnya, Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto pernah mengatakan, subsidi BBM tidak tepat lagi. Harga seliter BBM subsidi yang lebih murah dari 1 botol air mineral, sudah tidak masuk akal.

Menurut Suryo, subsidi energi (BBM dan listrik) yang mencapai hampir Rp 300 triliun dinilai terlalu besar, dan habis hanya untuk dibakar.

"Bayangkan kalau Rp 300 triliun tersebut dialihkan ke infrastruktur dan pendidikan. Banyak yang merasakan dampaknya, seperti pembangunan infrastruktur efeknya akan menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan geliat ekonomi, dan pengusaha pastinya akan memanfaatkannya juga. Bandingkan dengan subsidi BBM dan listrik saat ini, ya yang menikmati kita-kita ini (pengusaha) dan orang mampu," paparnya.

Laporan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) juga mengatakan, seringkali terjadi penyelundupan BBM subsidi yang jumlahnya lumayan. Terakhir, ada sekitar 1.700 KL BBM subsidi diduga yang diselundupkan di Kalimantan. Bahkan ada juga oknum aparat keamanan yang juga membekingi BBM subsidi untuk diselundupkan ke industri.

Bahkan Menteri ESDM Jero Wacik mengakui, selama ini penyelundupan BBM subsidi makin banyak karena harga BBM subsidi yang terlalu murah yaitu Rp 4.500 per liter dibandingkan BBM non subsidi sekitar Rp 9.700 per liter.

Jero Wacik tak menampik adanya penyelundupan BBM subsidi. Bahkan menurut Jero, aksi penyelundupan BBM subsidi makin banyak walaupun sudah banyak yang tertangkap. Hal ini salah satunya disebabkan oleh makin lebarnya perbedaan harga antara BBM subsidi dengan BBM non subsidi.

"Kita sudah tangkap mereka, tapi yang menyelundup makin banyak lagi, semakin banyak akal-akalan mereka," kata Jero.

(wij/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads