"Bulan Oktober ini ada impor BBM yang cukup besar," ujar Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo, saat jumpa pers, di kantornya, Jalan Dr. Sutomo, Jakarta, Senin (3/12/2012).
Berdasarkan data BPS, impor minyak mentah pada Oktober tercatat sebesar US$ 1,073 miliar atau naik US$ 294,9 juta (37,86 persen) ketimbang bulan sebelumnya sebesar US$ 779 juta. Sementara, impor hasil minyak sebesar US$ 2,539 miliar naik US$ 79,7 juta (3,24 persen) ketimbang sebelumnya US$ 2,459 miliar. Di samping itu, impor gas juga mencatat kenaikan US$ 20,5 juta (10,01 persen) menjadi US$ 225,2 juta dari sebelumnya US$ 204,7 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara keseluruhan, impor pada Oktober tercatat mencapai US$ 17,21 miliar atau naik 10,82 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara, ekspor pada Oktober hanya mencapai US$ 15,67 miliar atau turun 7,61 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia pada Oktober mencapai US$ 1,55 miliar. Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Oktober tahun ini tercatat sebesar US$ 516,1 juta. Defisit pada Oktober tersebut tercatat sebagai defisit terbesar sepanjang sejarah perdagangan Indonesia, menyalip defisit perdagangan pada Juni, sebesar US$ 1,32 miliar.
Selain karena terdapat peningkatan impor, terjadi penurunan ekspor pada Oktober disebabkan oleh melemahnya ekspor non Migas, yang hanya tercatat sebesar US$ 12,6 miliar, turun 3,42 persen ketimbang bulan sebelumnya yang sebesar US$ 13,127 miliar. Sementara ekspor Migas mengalami kenaikan 7,87 persen dari US$ 2,770 miliar menjadi US$ 2,988 miliar.
“Penurunan ekspor disebabkan turunnya ekspor CPO karena harganya yang melemah menyusul rendahnya permintaan di pasar internasional,” tandas Sasmito.
(nia/dru)











































