Saat melakukan Live Chat bersama detikForum, banyak yang menanyakan soal kenaiakn tarif listrik tersebut. Nur menyatakan, kenaikan tersebut dilakukan pemerintah untuk mengurangi jumlah subsidi listrik yang bakal terus naik akibat naiknya kebutuhan listrik nasional.
"Tpai kwh listrik ada subsidi Rp 510, jadi kalau kebutuhan listrik naik, volume subsidi naik juga. Pemerintah berpikir, subsidi listrik dikurangi untuk digunakan bagi keperluan lain," kata Nur dalam Live Chat di kantor detikcom, Jakarta, Selasa (4/12/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meskipun tarif listrik tidak naik, kinerja PLN terus semakin membaik, Ada target-target yang ditetapkan pemerintah yang harus dipenuhi oleh PLN," tegas Nur.
Pada kesempatan tersebut, Nur juga menjawab pertanyaan para anggota detikForum terkait soal energi primer yang digunakan pembangkit listrik PLN saat ini.
Nur yang juga mantan Direktur Energi Primer PLN zaman Dahlan Iskan mengatakan, sampai tahun ini 50% energi pembangkit listrik PLN berasal dari batubara, 17% dari minyak, 23% dari gas, 5% dari panas bumi, dan 7% dari tenaga air.
"Biaya membangkitkan listrik Rp 1.240 per kwh, dijual ke masyarakat Rp 730 per kwh, jadi untuk setiap kwh ada subsidi Rp 510," ungkap Nur.
Soal anggapan masyarakat yang menganggap saat ini PLN monopoli listrik, Nur juga menjawab. Dikatakan Nur, swasta boleh masuk untuk berbisnis listrik di daerah manapun.
"Tapi sejauh ini, swasta maunya cuma bikin pembangkit listrik. Kalau harus menjual sampai ke rumah-rumah mana tahan. Cuma PLN yang jualan energi sampai ke rumah-rumah, swasta belum ada yang mau," papar Nur.
PLN saat ini juga tengah aktif membangun pembangkit tenaga matahari di daerah terpencil. Ini dilakukan karena di daerah terpencil sulit mendapatkan BBM, sehingga baru bisa tenaga matahari yang kapasitasnya terbatas karena mahalnya investasi untuk listrik tenaga matahari.
(dnl/ang)











































