Bos PLN: Tarif Listrik RI Lebih Murah Dibanding Malaysia dan Thailand

Bos PLN: Tarif Listrik RI Lebih Murah Dibanding Malaysia dan Thailand

Wahyu Daniel - detikFinance
Selasa, 04 Des 2012 14:57 WIB
Bos PLN: Tarif Listrik RI Lebih Murah Dibanding Malaysia dan Thailand
Jakarta -

PT PLN (Persero) menyatakan, tarif listrik di Indonesia merupakan yang paling murah di Asia Tenggara. Saat ini subsidi yang diberikan pemerintah untuk tiap kwh listrik mencapai Rp 510.

Direktur Utama PLN Nur Pamudji dalam Live Chat bersama detikForum mengatakan, tarif listrik untuk rumah tangga di Indonesia mencapai 7 sen dolar, di Thailand 9 sen dolar, di Malaysia 11 sen dolar, dan di Filipina 11,7 sen dolar.

"Biaya rata-rata PLN Rp 1.240/kwh, biaya di Jawa sekitar Rp 1.200, biaya di luar Jawa bervariasi, tergantung lokasinya. Cash flow PLN positif karena ada subsidi," ujar Nur dalam Live Chat yang dilakukan di kantor detikcom, Jakarta, Selasa (4/12/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nur mengatakan, sebanyak 73% dari biaya listrik adalah biaya bahan bakar, kalau untuk biaya pegawai hanya 8,3%. "Jadi kalau pun semua pegawai PLN tidak digaji, penurunan costnya tidak sampai membuat tarif listrik tak perlu naik," jelas Nur.

Nur yang juga mantan Direktur Energi Primer PLN zaman Dahlan Iskan mengatakan, sampai tahun ini 50% energi pembangkit listrik PLN berasal dari batubara, 17% dari minyak, 23% dari gas, 5% dari panas bumi, dan 7% dari tenaga air.

"Biaya membangkitkan listrik Rp 1.240 per kwh, dijual ke masyarakat Rp 730 per kwh, jadi untuk setiap kwh ada subsidi Rp 510," ungkap Nur.

Soal anggapan masyarakat yang menganggap saat ini PLN monopoli listrik, Nur juga menjawab. Dikatakan Nur, swasta boleh masuk untuk berbisnis listrik di daerah manapun. "Tapi sejauh ini, swasta maunya cuma bikin pembangkit listrik. Kalau harus menjual sampai ke rumah-rumah mana tahan. Cuma PLN yang jualan energi sampai ke rumah-rumah, swasta belum ada yang mau," papar Nur.

PLN saat ini juga tengah aktif membangun pembangkit tenaga matahari di daerah terpencil. Ini dilakukan karena di daerah terpencil sulit mendapatkan BBM, sehingga baru bisa tenaga matahari yang kapasitasnya terbatas karena mahalnya investasi untuk listrik tenaga matahari.

(dnl/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads