30% Subsidi BBM Dinikmati Warga Jabodetabek

30% Subsidi BBM Dinikmati Warga Jabodetabek

Zulfi Suhendra - detikFinance
Kamis, 06 Des 2012 15:11 WIB
30% Subsidi BBM Dinikmati Warga Jabodetabek
Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Subsidi BBM yang tahun ini nilainya mencapai ratusan triliun diakui tidak tepat sasaran. Ternyata sebanyak 30% dari subsidi BBM dinikmati warga Jabodetabek.

Deputi Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Kementerian Koordinator Perekonomian Luky Eko Wuryanto menyatakan, harusnya subsidi BBM ditekan demi pembangunan infrastruktur. Tapi kenapa pemerintah tidak tegas menaikkan harga BBM subsidi?

"Subsidi BBM ini 30% di Jabodetabek," ungkap Luky kepada detikFinance di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (6/12/12)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Luky, besaran subsidi BBM ini bisa ditekan, salah satunya dengan cara merealisasikan proyek transportasi massal. Luky menyebutkan, jika transportasi di Jakarta bagus, itu akan memicu masyarakat menggunakan transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi.

"Di sisi lain kalau kita bisa meningkatkan efisiensi dari transportasi di Jabodetabek. Itu nanti beban subsidi BBM bisa dikurangi," ungkapnya.

Sehingga, lanjut Luky, anggaran yang tadinya untuk subsidi BBM bisa dialihkan untuk proyek infrastruktur di luar pulau Jawa khususnya di Indonesia Timur. "Kalau subsidi BBM ini bisa dibangun untuk infrastruktur," katanya.

Luky juga menyayangkan, anggaran pemerintah untuk infrastruktur masih tergolong kecil, jika dibandingkan dengan subsidi BBM.

"Bayangkan subsidi BBM itu Rp 300 triliun, infrastruktur lebih kecil Rp 200 triliun itu sebetulnya kebalik," cetusnya.

Seperti diketahui, anggaran subsidi BBM di 2012 meningkat dari Rp 137 triliun menjadi Rp 219 triliun akibat adanya tambahan kuota BBM subsidi dari 40 juta KL menjadi 4,4 juta KL. Tapi ternyata jatah tersebut belum cukup dan pemerintah minta tambahan lagi 1,2 juta KL dengan nilai sekitar Rp 6 triliun.

Dalam APBN-P 2012 disetujui anggaran subsidi energi Rp 225 triliun, dengan rincian subsidi BBM Rp 137 triliun, subsidi listrik Rp 65 triliun, dan cadangan risiko fiskal energi Rp 23 triliun.

Sebelumnya, Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto pernah mengatakan, subsidi BBM tidak tepat lagi. Harga seliter BBM subsidi yang lebih murah dari 1 botol air mineral, sudah tidak masuk akal.

Menurut Suryo, subsidi energi (BBM dan listrik) yang mencapai hampir Rp 300 triliun dinilai terlalu besar, dan habis hanya untuk dibakar.

"Bayangkan kalau Rp 300 triliun tersebut dialihkan ke infrastruktur dan pendidikan. Banyak yang merasakan dampaknya, seperti pembangunan infrastruktur efeknya akan menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan geliat ekonomi, dan pengusaha pastinya akan memanfaatkannya juga. Bandingkan dengan subsidi BBM dan listrik saat ini, ya yang menikmati kita-kita ini (pengusaha) dan orang mampu," paparnya.

Laporan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) juga mengatakan, seringkali terjadi penyelundupan BBM subsidi yang jumlahnya lumayan. Terakhir, ada sekitar 1.700 KL BBM subsidi diduga yang diselundupkan di Kalimantan. Bahkan ada juga oknum aparat keamanan yang juga membekingi BBM subsidi untuk diselundupkan ke industri.

Bahkan Menteri ESDM Jero Wacik mengakui, selama ini penyelundupan BBM subsidi makin banyak karena harga BBM subsidi yang terlalu murah yaitu Rp 4.500 per liter dibandingkan BBM non subsidi sekitar Rp 9.700 per liter.

Jero Wacik tak menampik adanya penyelundupan BBM subsidi. Bahkan menurut Jero, aksi penyelundupan BBM subsidi makin banyak walaupun sudah banyak yang tertangkap. Hal ini salah satunya disebabkan oleh makin lebarnya perbedaan harga antara BBM subsidi dengan BBM non subsidi.

"Kita sudah tangkap mereka, tapi yang menyelundup makin banyak lagi, semakin banyak akal-akalan mereka," kata Jero.

(zlf/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads