Untuk bisa merealisasikan ide tersebut, Pertamina meminta alfa (margin) Rp 20 per liter dari setiap BBM subsidi yang disalurkan Pertamina. Pihak DPR menolak karena akan membebani uang negara.
"Jika tidak mau pakai Rp 20 per liter, bisa dari biaya Pertamina sendiri, namun risikonya dividen yang kami berikan kepada negara pasti akan berkurang," kata Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan, usai peresmian 8 proyek unggulan PT Pertamina di Tanjung Priok, Kamis (6/12/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya belum bicara dengan pemegang saham, itu kan butuh dana Rp 800 miliar per tahun, proyeknya lima tahun jadi sebenarnya butuh dana Rp 4 triliun untuk peralatan seluruh SPBU, ini tergantung pemegang saham," ucap Karen.
Menurut Karen, walaupun membutuhkan dana Rp 800 miliar investasi tersebut jauh lebih murah dari pada harus menambah kuota BBM subsidi untuk kegiatan satu tahun. Misalnya tahun ini, pemerintah harus menambah kuota BBM subsidi hingga 1,2 juta kilo liter senilai Rp 6 triliun.
"Tambahan kuota BBM subsidi 1,2 juta KL itu mencapai Rp 5,6 triliun itu setahun, kalau ini kan butuhnya hanya Rp 800 miliar dimana bisa mengamankan kuota BBM subsidi agar sampai ke konsumen dan menekan kuota BBM agar tidak lewat," tandas Karen.
(rrd/hen)











































