Wakil Kepala Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Fanshurullah Asa mengatakan stok BBM nasional Indonesia hanya 21 hari dan kalau dihitung DKI Jakarta hanya punya stok 3 hari saja.
"Stok BBM nasional kita cuma 21 hari, bandingkan Jepang, Amerika dan Eropa yang mempunyai stok BBM hingga 6-7 bulan, bahkan DKI Jakarta itu cuma punya stok BBM hanya 3 hari," kata Fanshurullah kepada detikFinance, Kamis (20/12/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"DKI Jakarta itu cuma ada stok BBM cukup 3 hari, jadi misal kalau ada ledakan pipa minyak di Balongan, itu bisa kacau, DKI Jakarta cuma ada BBM cukup 3 hari saja, bayangkan itu setelah 3 hari bisa tidak kendaraan yang berjalan di Jakarta," katanya.
Ia berharap kewenangan menyediakan stok BBM ada di BPH Migas bukan lagi dilakukan PT Pertamina (Persero).
“Makanya sudah seharusnya kewenangan menyediakan stok BBM ada ditangan pemerintah yang diserahkan ke BPH Migas sesuai Undang-Undang Migas Pasal 46 ayat 2, dan tidak lagi stok dilakukan Pertamina,” ujarnya.
Jika stok BBM dilakukan BPH Migas, pihaknya bisa meminta tambahan dana ke Kementerian Keuangan untuk membangun gudang penampungan BBM.
“Kita bisa minta tambahan dana dari Kemenkeu, yang sejatinya uang itu uang yang kita hasilkan juga dari Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dimana tahun 2011 mencapai Rp 1 triliun, kita bisa gunakan uang itu untuk bangun gudang penampungan, nanti kita tenderkan siapa yang bangun gudang tersebut,” tutur pria yang akrab disapa Ifan ini.
Menurut Ifan, dengan adanya gudang penampungan BBM yang besar dan bisa cukup hingga 3 bulan lamanya memberikan banyak manfaat.
“Manfaatnya seperti ketahanan stok BBM kita cukup lama, jika ada perang atau bencana alam kita masih punya stok yang cukup. Kemudian jika harga di luar negeri naik tinggi kita bisa jual dulu BBM subsidinya, kan menguntungkan negara," kata Ifan.
(rrd/hen)











































