"Indonesia sampai saat ini masih kekurangan gas untuk dalam negeri, terutama industri," kata Jero di acara Penandatanganan 5 Kontrak Jual Beli Minyak dan Gas Bumi, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (26/12/2012).
Namun walaupun dalam negeri masih kekurangan gas, pemerintah masih melakukan ekspor gas ke luar negeri karena butuh uang untuk membangun rumah sakit, membangun sekolah, dan lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jero mengatakan, harga gas ekspor saat ini mencapai US$ 16-20 per MMBTU, sementara harga jual gas dalam negeri hanya US$ 6-12 per MMBTU.
"Karena gas ekspor harganya saat ini mencapai US$ 16-20 per MMBTU, sedangkan harga jual gas dalam negeri hanya US$ 6-12 per MMBTU, di mana untuk PLN harganya sekitar US$ 11-12 per MMBTU, sedangkan harga jual gas ke industri US$ 6-7 per MMBTU," ungkap Jero.
Kebijakan ini, kata Jero, terus dikritik para pengamat, alasannya kenapa harga jual gas industri lebih mahal daripada harga ekspor gas ke Fujian China yang hanya US$ 3,5 per MMBTU.
"Padahal kita (pemerintah) sudah jual gas ke dalam negeri lebih murah dibandingkan harga ekspornya, tapi itu dikritik lagi karena ekspor gas ke Fujian cuma US$ 3,5 per MMBTU, ini pembandingnya berbeda, biarkanlah itu yang Fujian, lupakan, itu kontrak panjang terdahulu, yang ada saat ini saja kita perbaiki," cetus Jero.
(rrd/dnl)











































