Penghematan Alamiah BBM Subsidi: Kenaikan Harga!

Penghematan Alamiah BBM Subsidi: Kenaikan Harga!

- detikFinance
Minggu, 06 Jan 2013 15:02 WIB
Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menilai satu-satunya cara untuk melakukan penghematan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang efektif adalah dengan kenaikan harga. Melalui cara tersebut, masyarakat secara alamiah mengurangi pemakaian BBM bersubsidi sesuai dengan kemampuan daya belinya.

Demikian disampaikan Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro saat ditemui di Jakarta, seperti dikutip, Minggu (6/1/2013).

"Dalam pandangan saya hemat energi itu hanya efektif kalau disupport kebijakan harga. Kalau hemat energi hanya himbauan atau katakanlah sanksi itu efektivitasnya akan sangat terbatas dibandingkan hemat itu dilakukan secara
alamiah. Alamiah itu misalnya ini harganya terlalu mahal buat saya, ini tidak cocok buat saya, maka akan saya kurangi penggunaannya," ungkapnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Bambang, dengan harga energi yang murah justru mendorong pemborosan energi. Pasalnya, masyarakat dengan mudahnya mendapatkan bahan bakar sehingga tidak perlu lagi melakukan penghematan.

"Harga yang terlalu murah bisa mendorong konsumsi energi yang semakin boros selain tentunya terjadi penyelewengan, penyimpangan tetapi dari masyarakat sendiri itu menimbulkan kesan, kalau suatu barang itu harganya murah itu ya sudah tidak ada urgensi untuk melakukan gerakan hemat energi," jelasnya.

Dampaknya bagi fiskal, lanjut Bambang, selalu saja terjadi pembengkakkan kuota BBM bersubsidi yang menyebabkan meningkatnya jumlah anggaran untuk subsidi BBM. Hal ini karena tidak adanya perilaku penghematan energi dan juga subsidi yang awalnya hanya untuk masyarakat menengah ke bawah, tetapi diterima juga oleh seluruh kalangan masyarakat.

"Kondisi subsidi BBM terutama tahun 2012 ini sudah sangat tidak sehat karena ada dua hal, porsi belanja yang dihabiskan menurut saya terlalu besar untuk satu jenis subsidi, kedua subsidi ini tidak menguntungkan banyak orang, artinya malah menguntungkan orang-orang yang tidak perlu disubsidi," paparnya.

Selain itu, lanjut Bambang, ada dampak terhadap neraca perdagangan dari besarnya permintaan BBM ini, yaitu meningkatnya impor BBM.

"Dengan kita boros memakai BBM juga ujungnya kita impor karena walaupun impor BBM hanya 25% tetapi ikut berkontribusi terhadap trade balance kita," jelasnya.

Untuk itu, Bambang meminta agar semua pihak bisa melakukan penghematan BBM ini. Hal ini guna memperbaiki pertumbuhan ekonomi di tahun 2013 ini dan mendatang.

"Pengendalian BBM tidak bisa dilakukan seadanya tapi harus dilakukan secara serius, tekanan neraca prdagangan brkurang, transaksi berjalan berkurang, ujungnya nanti kan ekonomi jadi lebih sehat dan target pertumbuhan di 2013 yang kita harapkan agak tinggi bisa tercapai," pungkasnya.
(nia/dru)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads