Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini mengatakan, sebagai negara importir BBM, Indonesia memerlukan mata uang dolar yang banyak untuk mengimpor. Ini seringkali membuat Bank Indonesia (BI) kewalahan.
"Ingat Indonesia adalah negara net importir minyak, untuk memenuhi kebutuhan BBM kita harus impor karena produksi kita sendiri tidak cukup," kata Rudi di Jakarta, Senin (7/1/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Barang impor belinya pakai dolar, dan BI harus menyediakan dolar untuk Pertamina untuk belanjakan uangnya (impor BBM), bahkan sempat defisit ketika minyak dunia melejit. Sementara dapat dari SPBU rupiah, makanya Pak Darmin (Gubernur BI) menjerit-jerit terus kan ya masuk akal sih," ungkap Rudi.
Solusi untuk menjaga agar keuangan negara aman dan cadangan devisi tidak tergerus untuk impor BBM, menurut Rudi adalah dengan menaikkan harga BBM subsidi dari saat ini Rp 4.500 per liter.
"Ya solusinya naikkan harga, karena dengan harga BBM subsidi naik, maka makin kecil subsidi yang diberikan negara. Kita sih maunya naik tapi semua tergantung Menteri Keuangan, beliau yang menentukan apakah sudah saatnya harga BBM subsidi dinaikan atau tidak," katanya.
(rrd/dnl)











































