Mobil Baru Bebas 'Minum' Bensin Premium, Siapa yang Salah?

Mobil Baru Bebas 'Minum' Bensin Premium, Siapa yang Salah?

Maikel Jefriando - detikFinance
Senin, 14 Jan 2013 16:17 WIB
Mobil Baru Bebas Minum Bensin Premium, Siapa yang Salah?
Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Masyarakat mampu memang tak mempan hanya dengan imbauan untuk tidak mengkonsumsi BBM subsidi. Buktinya masih banyak mobil yang membeli BBM subsidi. Lantas siapa yang harus disalahkan oleh tidak tepatnya alokasi BBM subsidi ini?

Anggota Komisi XI DPR RI Arif Budimanta mengatakan, harus pemerintah tak lagi mengeluarkan izin peredaran mobil keluaran baru yang bisa mengkonsumsi bensin subsidi. Jadi kesalahan ini ada di Kementerian Perindustrian.

"Ya salahkan (regulasi) industrinya dong, iya kan mengeluarkan bahan BBM-nya kan tidak bertimbal. Kan kebijakan terhadap industri itu yang buat pemerintah," ungkap Arif kepada detikfinance di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (14/1/2013)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikatakan Arif yang juga Direktur Eksekutif Megawati Institute ini, salah jika pemerintah terus membiarkan produksi mobil yang bisa menggunaka bensin premium. Harusnya pemerintah kompak jika benar-benar ingin menekan jumlah konsumsi BBM subsidi.

"Lihat, kenapa industri mengeluarkan kendaraan yang dapat mengkonsumsi premium. Mereka (produsen mobil) mengeluarkan itu tentu karena ada izin," imbuhnya.

Untuk itu, pemerintah adalah pihak yang bertanggung jawab atas hal ini. Sehingga menyebabkan kuota BBM bersubsidi selalu jebol dan menghabiskan anggaran negara.

"Siapa yang mengeluarkan ya pemerintah. Yang mengendalikan pemerintah juga," cetus Arif yang merupakan anggota Fraksi PDIP.

Secara terpisah, Wakil Ketua Komisi XI DPR Harry Azhar Azis mengku tidak setuju jika ada mobil baru yang bebas menggunakan BBM subsidi.

Harus ada aturan tegas yang diambil oleh pemerintah, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Bahkan, Harry mempertanyakan, kenapa aturan pembatasan konsumsi BBM subsidi sulit untuk dikeluarkan. Dia menilai ada permainan antara Kementerian ESDM dengan pelaku industri otomotif dalam hal ini.

"Sampai sekarang kan tidak berani dirumuskan. Saya nggak tahu apakah ada lobi pihak otomotif atau bagaimana di Kementerian ESDM sehingga tidak jadi," ujarnya.

Pantauan detikFinance hari ini di SPBU 34-13414 Pasar Gembrong, Jakarta masih banyak mobil-mobil mewah bahkan mobil baru keluaran tahun 2012 yang mengisi bahan bakarnya dengan premium.

Sebut saja All New Honda City keluaran tahun 2012 sampai KIA Sportage mengantre di dispenser yang khusus untuk bahan bakar jenis premium. Bahkan sejenis mobil Nissan Evalia yang baru saja keluar-pun ikutan mengisi premium.

Subsidi memang sudah salah sasaran. Berdasarkan data terbaru 2013, Direktorat Pemasaran dan Niaga Pertamina saat ini 97% kendaraan bermotor (roda dua dan empat) di Indonesia khususnya berteknologi baru masih menggunakan Premium atau BBM subsidi. Padahal komponen kendaraanya sudah tidak cocok lagi menggunakan BBM Premium.

"Lebih dari 97% kendaraan bermotor saat ini masih menggunakan Premium," jelas laporan Fuel Retail Marketing Direktorat Pemasaran & Niaga Pertamina.

Padahal mayoritas kendaraan saat ini sudah harus menggunakan Pertamax. "Padahal mayoritas kendaraan saat ini sudah harus menggunakan Pertamax dan secara teknologi dan kualitas kompoten sudah tidak cocok menggunakan Premium," jelas laporan tersebut.

Apalagi saat ini Pertamina sudah menyediakan bahan bakar yang sudah sesuai dengan teknologi dan kualitas komponen kendaaraan saat ini. "Pertamax dan Pertamax Plus yang ada saat ini sudah setara Euro 3 dan sudah diinjeksi additive (memenuhi standar detergency WWFC kategori 4)," tambah Pertamina.

Sementara, beban subsidi untuk bahan bakar saat ini sebesar kurang lebih Rp 200 triliun per tahun dan sudah sangat membebani negara.

(dnl/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads