Hal ini disampaikan Wakil Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro kepada detikFinance, Selasa (15/1/2013).
"Tidak tepat sasaran ini karena BBM subsidi lebih banyak dinikmati oleh orang kaya dan mampu yang seharusnya tidak memerlukan atau tidak perlu diberi subsidi oleh negara," kata Komaidi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau 46 juta KL x 70% x Rp 4.500 per liter artinya Rp 144,9 triliun dibuang-buang pemerintah untuk sesuatu yang tidak perlu," ujarnya.
Namun, agar anggaran uang negara ratusan triliun tidak diperuntukkan untuk sesuatu yang tidak perlu, maka alangkah baiknya pemerintah mempunyai ketegasan yakni menaikan harga BBM subsidi.
"Jika dibatasi orang kaya dan mampu tidak boleh beli BBM subsidi implementasinya sangat sulit dilakukan, namun jika menaikkan harga, anggaran subsidi BBM jauh lebih banyak berkurang," tandasnya.
(rrd/dnl)











































