2013 Jadi 'Tahun Nadir' Industri Minyak Indonesia

2013 Jadi 'Tahun Nadir' Industri Minyak Indonesia

Maikel Jefriando - detikFinance
Rabu, 16 Jan 2013 17:30 WIB
2013 Jadi Tahun Nadir Industri Minyak Indonesia
Jakarta - Kepala Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini mengaku pesimistis target produksi minyak di 2013 sebesar 900 ribu barel per hari akan tercapai.

"Ini merupakan tahun nadir industri minyak, karena dari statistik 2013 memang berat, tapi 2014 membaik. jadi mohon maaf," ungkap Rudi usai pelantikannya di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (16/1/2013)

Menurutnya, apa yang dikerjakan SKK Migas sekarang akan dapat terlihat dampaknya 5 hingga 10 tahun mendatang. Apalagi mengingat beberapa sumur yang gagal dieksplorasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"jadi yang baru dikerjakan tahun ini, baru terasa dampaknya 5-10 tahun lagi," tambahnya.

Berdasarkan data yang diterima detikFinance, ada 16 sumur yang gagal dieksplorasi dari 2009 hingga 2012 atau dikatakan sumur kering. Sehingga otomatis tidak ada tambahan produksi minyak baru di Indonesia.

Antara lain, sumur Rangkong 1 di wilayah Surumana, sumur Sultan 1 dan kriss well 1ST di wilayah kerja Mandar Selat Makassar milik ExxonMobil. Sumur Gatot Kaca 1 ST, Anoman 1, Antasena 1 di wilayah kerja Karama Selat Makassar milik Statoil.

Selain itu, sumur Aru 1, Amborip VI di Papua, dan Sumur Mutiara Putih 1 di Laut Arafuru milik Conocophillips. Lalu Sumur Lempuk-IX di Sageri Papua milik Talisman.

Sumur bravo well dan romeo well di Pasang Kayu Selat Makassar milik Marathon juga tak menghasilkan minyak. Ada pula sumur Benteng di wilayah kerja Buton milik Japex, sumur Sindoro 1 di Se Palung Aru di Kepulauan Aru milik CNOOC, Andalan 1 dan 2 di Semai Papua milik HESS, dan juga Lengkuas 1 di wilayah Semai II Papua milik Murphy.

(dnl/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads