"Bisa dikatakan hulu migas nasional sebenarnya bukan hanya dalam kondisi titik nadir, tapi juga darurat," kata Pengamat Energi dari ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto kepada detikFinance dalam pesan singkatnya, Rabu (23/1/2013).
Dikatakan Pri Agung, pasalnya kondisi yang terjadi saat ini di sektor hulu migas nasional adalah buah tata kelola hulu migas yang keliru dan dipertahankan terus menerus hingga kini, sehingga berdampak pada iklim investasi untuk kegiatan eksplorasi migas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya, produksi minyak saat ini makin menurun dan hanya akan ada di kisaran 830.000-850.000 barel per hari. "Dampak dari buah tata kelola migas yang keliru ini, produksi minyak makin hari makin menurun dan hanya ada di kisaran 830.000 sampai 850.000 barel per hari," ucap Pri Agung.
Ditambahkannya, yang bisa dilakukan jajaran pemerintahan di sektor ESDM tidak lain adalah hanyalah optimalisasi dari lapangan-lapangan migas yang ada saat ini dan meminimalisasi gangguan-gangguan operasi dan mempercepat pengambilan keputusan agar operasi tidak semakin terlambat.
"Untuk bisa mencapai target lifting saat ini hanyalah optimalisasi dari lapangan-lapangan yang ada, meminimalkan gangguan operasi dan mempercepat proses pengambilan keputusan agar operasi tidak semakin terhambat," jelasnya.
Pasalnya, saat ini jika pun ditemukan suatu lapangan dengan cadangan skala besar, hasil produksinya baru akan dapat dilihat 4-5 tahun ke depan.
"Jikapun saat ini ditemukan suatu lapangan dengan cadangan skala besar, hasil produksinya baru akan dapat dilihat paling cepat dalam 4-5 tahun ke depan. Padahal hingga saat ini penemuan itu belum ada, EOR (pengurasan lapangan migas tahap lanjut-Red) pun juga baru dalam tahap uji coba," tandasnya.
(rrd/dnl)











































