Total E&P Merasa Diserang Secara Politik di Blok Gas Mahakam

Total E&P Merasa Diserang Secara Politik di Blok Gas Mahakam

Rista Rama Dhany - detikFinance
Rabu, 23 Jan 2013 12:41 WIB
Total E&P Merasa Diserang Secara Politik di Blok Gas Mahakam
Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Total E&P Indonesie merasa keberadaan mereka di lapangan gas Blok Mahakam, Kalimantan Timur saat ini terus diserang secara politik, khususnya terkait habisnya kontrak perusahaan ini di Blok Mahakam pada 2017.

"Kita merasa saat ini terus diserang, serangan politik, bentuknya seperti tudingan kita ini asing, jangan diperpanjang kontrak Total di Mahakam karena menyangkut nasionalisme," kata Head Departement Media Relations Total E&P Indonesie Kristanto Hartadi kepada detikFinance di sela acara IndoGas 2013 di Jakarta Convention Center, Rabu (23/1/2013).

Dikatakannya, salah satu serangan yang nyata saat ini yakni munculnya gerakan politik khususnya di Kalimantan Timur yakni munculnya Koalisi Kaltim untuk Blok Mahakam, lalu gerakan-gerakan untuk menolak perpanjangan kontrak Total di Blok Mahakam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Contohnya serangan politik saat ini seperti munculnya gerakan-gerakan Koalisi Kaltim untuk Blok Mahakam, Gerakan Keaulatan Menegakkan nasionalisme untuk menolak perpanjangan kontrak Total di Blok Mahakam dan lain-lainnya," ucap Kritanto.

Jika ini dibiarkan, kata Kristanto, tentunya akan berdampak para semangat kerja pegawai Total, dan ujung-ujungnya bisa berdampak para produksi migas Total khususnya di Blok Mahakam.

"Sampai saat ini kami masih tidak terganggu dengan gerakan-gerakan tersebut, tapi kalau lama kelamaan ini bisa berdampak pada semangat kerja pegawai dan ujung-ujungnya berdampak pada produksi minyak dan gas khususnya di Blok Mahakam.

Padahal, kata Kristanto, Menteri Keuangan Agus Martowardojo beberapa hari lalu bilang kalau lifting minyak gagal capai target maka harapannya ada pada produksi gas. Kalau produksi gas juga gagal capai target maka anggaran terpaksa dipotong.

"Beberapa hari lalu Pak Agus (Agus Martowardojo) bilang harapan anggaran negara ada di migas, kalau minyak tidak tercapai target, bisa genjot produksi gas, kalau hambatan seperti ini dibiarkan dan berdampak pada produksi dan target tidak tercapai, kata Pak Agus ya anggaran kita potong, nah apa yang terjadi? Perlambatan perekonomian Indonesia kan," jelasnya.

Bahkan sebelumnya, Presiden Direktur dan General Manager Total E&P Indonesie Elisabeth Proust mengatakan, Total merupakan urutan pertama dalam produksi migas Indonesia.

"Saat ini kami mengoperasikan 412.000 barel setara minyak/hari, kami berada di urutan nomor satu dalam barel setara minyak/hari, nomor satu untuk penghasil gas," tandas Elisabeth.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads