Total E&P: Sekarang Produksi Gas di Indonesia Makin Sulit

Total E&P: Sekarang Produksi Gas di Indonesia Makin Sulit

Rista Rama Dhany - detikFinance
Rabu, 23 Jan 2013 14:13 WIB
Total E&P: Sekarang Produksi Gas di Indonesia Makin Sulit
Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Total E&P Indonesie mengakui turunnya produksi gas saat ini, karena medan lapangan migasnya sulit. Cadangan-cadangan gas lebih banyak berada di laut dalam (deep water).

"Tadi Ibu Elisabeth (President Direktur and General Manager Total E&P Indonesie Elisabeth Proust) dalam persentasinya di IndoGas 2013 mengungkapkan saat ini produksi gas makin sulit," kata Head Departement Media Relations Total E&P Indonesie Kristanto Hartadi kepada detikFinance ketika ditemui di sela acara IndoGas 2013 di Jakarta Convention Center, Rabu (23/1/2013).

Cadangan-cadangan gas di Indonesia memang berada di wilayah dengan medan yang sulit, seperti di Indonesia Timur dan di laut dalam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena lokasi cadangan gas banyaknya ada di wilayah Indonesia Timur seperti di Sulawesi, Papua dan lainnya dan juga letaknya di laut dalam (deep water)," ungkapnya.

Medan yang sangat berat ini tentunya membuat biaya investasi yang harus dikeluarkan sangat besar, dan teknologi yang canggih serta moderen diperlukan.

"Tentunya dengan kondisi seperti itu diperlukan investasi yang besar dan teknologi canggih dan moderen. Berapa? Ya sebagai contoh di Blok Mahakam yang cadangannya sudah pasti Total memerlukan dana tahun ini sebesar US$ 2,3 miliar untuk menjaga produksi gas, nah kalau di laut dalam apalagi dengan kedalaman hingga 1.000 meter biayanya lebih besar dan kalau itu tidak dapat ya habis tidak ada yang ganti," jelas Kristanto.

Contoh lain, ujar Kristanto, Blok Mentawai di Sumatera, sudah jelas-jelas lokasinya selain di laut dalam, tempatnya berada di patahan lempengan bumi.

"Kita sedang akan melakukan pengeboran di Blok Mentawai di Sumatera, letaknya berada di dekat lepengan bumi, di mana di sana terbukti sudah pernah terjadi tsunami besar, tentunya ini tantangan besar bagi kami. kita juga ada dikonsorsium di East Natuna di mana itu gasnya mengandung karbon tinggi, kalau dilepas ke atas lapisan ozon langsung bolong, jadi perlu dana besar untuk memasukan kembali karbon tersebut ke dalam perut bumi, makanya kami butuh insentif dari pemerintah," cetus Kristanto.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads