Ketua Asosiasi Perusahaan Compressed Natural Gas Indonesia (APCNGI) Danny Praditya mengatakan, dengan menggunakan BBG, masyarakat dapat menghemat uangnya untuk membeli bahan bakar. Karena harga BBG jenis CNG cukup ekonomis yaitu Rp 3.100/lps (liter setara premium).
"Di Indonesia itu ujung-ujungnya duit, ekonimislah Rp 3.100/lps," ungkap Danny saat ditemui di acara 7th Natural Gas Vehicles & Infrastructure Indonesia Forum and Exhibition di Ballroom Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Jumat (1/2/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau hemat, samalah dengan bensin. Relatif sama," tambahnya.
Dia menambahkan, selain murah, keunggulan lain penggunaan BBG adalah ramah lingkungan dan bebas polusi. Namun untuk mobil yang ingin menggunakan BBG harus menggunakan converter kit yang harganya Rp 12,5 juta. Awalnya pemerintah ingin menggalakkan penjualan converter kit dan dimulai untuk mobil-mobil dinas, namun sampai saat ini rencana tersebut masih sebatas wacana.
Danny mengatakan, janji pemerintah untuk menyebar 14 ribu converter kit hanyalah isapan jempol belaka. Alasan gagalnya program tersebut adalah karena kurangnya koordinasi antar pemerintah.
"Koordinasi pasti. kemarin gagal yang 14.000 itu bujetnya disetujui bulan Juli, sehingga pas melakukan tender bulan Oktober itu sudah nggak ngejar. Kalau punya program di 2013, bujetnya harus disetujui jauh-jauh hari supaya dalam 1 tahun itu harus terlaksana," tambahnya.
Oleh sebab itu, Danny selaku Ketua APCNG bekerjasama dengan Asia Pacific Natural Gas Vehicle Assoiciation (APNGVA) menggelar acara acara yang bertajuk 7th Natural Gas Vehicles & Infrastructure Indonesia Forum and Exhibition.
Danny mengungkapkan, ini merupakan acara tahunan yang digelar untuk saling tukar pemikiran mengenai teknologi CNG, converter kit dari pemangku kepentingan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
"Ini hanya refreshment, untuk pemangku kepentingan di Indonesia, yang CNG,BBG, untuk bisa belajar dan mengetahui perkembangna teknologi terbaru," ungkapnya.
Dia mengatakan, acara ini dihelat dari 31 Januari hingga 1 Februari 2013 dan diikuti oleh 180 peserta dari seluruh belahan dunia.
"Tadi ada orang dari Italia, Pakistan, India, jadi tujuannya membahas bagaimana untuk menjalankan program konversi ini," tambahnya.
Salah satu tujuannya, lanjut Danny, para pengusaha asing tersebut bisa mengetahui bagaimana program konversi BBM ke BBG di Indonesia. Dia tidak menepis kemungkinan, para pengusaha tersebut dapat memasok converter kit atau sarana penunjang lainnya jika pemerintah akan melakukan tender.
"Daripada studi banding keluar, mending panggil saja ke sini. Buat orang luar juga nanti tahu, kalau tahunnanti ada tender ini-ini, mereka jadi tahu," pungkasnya.
(zul/dnl)











































